Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO – Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya. Ungkapan tadi patut menjadi perenungan buat kita semua tatkala melihat situasi dan kondisi yang penuh dengan berbagai ketimpangan, diskriminasi bahkan anarkisme. Manusia menjadi serigala bagi sesamanya.
Merusak, menghancurkan bahkan membunuh degan tenang dan tiada lagi bersalah apalagi berdosa tentu tidak ada. Menabur kebencian seakan menjadi hobby baru dan melihat sesamanya dari keburukan, kejelekan bahkan perbedaann di pakai sebagai pembenar untuk melumatnya.
Rasa kemanusiaan, welas asih seperti tergerus trend kekerasan yang diajarkan, dipertontonkan ataupun yang dialami.

Ketidak adilan menjadikan luka batin menumpuk dan semakin menganga. Ini bagai bom waktu yang siap meledak.
Di sana sini dipertontonkan gaya-gaya hidup yang hedonis, narsis dan sarat dengan kekotoran hidup sehingga bagi yang termarjinalkan semakin jijik dan muak melihat, mendengar atau mengikutinya.
Hal semacam ini justru malah banyak di piara kaum ndoro yang sudah aman, mapan dan nyaman menikmati previlagenya.
Tatkala bertanya apa yang salah? Siapa yang salah ? Tentu akan saling tunjuk dan saling lempar. Ini sama saja bertanya siapa yajg waras di RS Jiwa. Semua akan mengaku waras walau dirinya gila dan hebatnya lagi menunjuk kepada temannya sebagai orang gila bahkan perawat dan dokternyapun dianggap tidak waras.
Dalam birokrasi yang sakit akan mempertontonkan diskriminasi, pelayanan yang tidak baik, sarat KKN dan aparaturnya yang tidak profesional.
Ini suatu kerumitan panjang dan kompleks sehingga untuk dapat mewaraskan diperlukan nyali sang pemimpin, untuk memperbaiki dan membangun system-sistem impersonal untuk membuat gerah dan mengusir sang Naga (mafia birokrasi) dari sarangnya.[CDL-05052016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







