Rizal Ramli.[Ist]
TRANSINDONESIA.CO – Puluhan lembaga swadaya masyarakat, ratusan tokoh lintas pergerakan, dan ribuan rakyat saat ini menentang keberadaan reklamasi Jakarta, mengikuti klaim kerusakan yang digelar aktifis “Save Teluk Benoa”.
Gerakan anti reklamasi Jakarta juga mengeluarkan belasan argumen buruknya reklamasi tersebut. LBH Jakarta, misalnya, merilis 19 kerusakan/ keburukan dalam web nya.
Hal ini mencakup kerusakan lingkungan, kerakusan pengembang haus tanah, penggusuran ribuan kepala keluarga nelayan miskin, penyebab banjir, dan menyerahkan hak eksklusif pantai bagi orang-orang kaya dan pengusaha raksasa.
![Menteri LHK Siti Nurbaya, Gurbenur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli.[Ist]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/04/rizal-ahok-siti.jpg)
Kelompok anti imigran Cina, menilai bahayanya penguasaan pantai jika mayoritas pembeli datang dari RRC. Sebab, sebuah pengembang menawarkan promosi properti ini kepada mereka.
Heroisme LSM dan tokoh-tokoh perjuangan rakyat ini, salah satunya, dilakukan dengan aksi pendudukan Pulau G, beberapa hari yang lalu. Mereka berlayar dari pantai ke pulau tersebut sambil menancapkan bendera serta penyegelan.
Mengapa si Rajawali Kepret, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli, berbeda dengan basis rakyat yang selama ini mengaguminya? Dan menjadikannya ikon perubahan? Bukankah mereka semua yang selama ini melihat musuh Rizal sebagai musih mereka? (Kapitalis)
Ada tiga hal penting yang mungkin perlu diselidiki yakni, pertama, ada tekanan kuat bagi Rizal dalam isu reshuffle kabinet yang hangat saat ini. Dimana Rizal harus berkompromi dengan kekuatan-kekuatan strategis disekitar Jokowi. Jika tidak berkompromi, bisa dikatakan membangun aliansi strategis.
Kedua, Rizal mentransformasikan diri dari sosok radikal menjadi sosok kompromistis. Hal ini dilakukan untuk mengurangi keributan dalam rezim Jokowi, sekaligus menjalankan fungsinya sebagai menteri kordinasi.
Ketiga, Rizal sudah menemukan “rumah” baru. “Rumah” ini adalah kekuasaan. Bukan lagi pusat gerakan (rumah perubahan). Dalam perjalanan psikologi, dia beradaptasi dengan “rumah” barunya setelah setahun meninggalkan “rumah” lamanya. Perlu waktu sedikit lagi untuk melihat perubahan perubahan sikap si Rajawali Kepret ini.
Oleh: Dr. Syahganda [Asian Institute for Information and Dev’t Studies]







