Merdeka Walk Medan.[Don]
TRANSINDONESIA.CO – Kalau anda ke Medan, Sumatera Utara, jangan lewatkan Istana Maimon dan Masjid Raya Al Mashun yang dibangun tahun 1906 masa pemerintahan Sultan Makmun Al Rasyid, sempurnakan dengan bertandang ke Taman Sri Deli yang berada diseberang Istana.
Ketiga warisan budaya yang mengagumkan,dan bukti sejarah betapa tingginya seni budaya dan peradaban masyarakat zaman itu.
Bagaimana kondisinya kini? Akankah dirawat, seperti cerdas otoritas kota Penang dan Melaka di Malaysia merawat kota tua (old town). Tak cuma merawat, kota tua dijual sebagai tujuan wisata.
![Masjid Raya Al Mashun.[Don]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/02/masjid-raya-medan.jpg)
Senada dengan Budi Agustono, pakar Hukum Perdata Fakultas Hukum USU, Prof Hasim Purba mendesak agar situs taman Sri Deli itu wajib dilestarikan.
“Perlu pengelolaan secara prefesional agar dapat dijadikan objek wisata budaya yang menarik turis lokal dan manca negara,” papar Prof Hasim Purba.

Menurut Prof Hasim, Pemerintah Kota Medan jangan hanya menjadikan taman Sri Deli objek proyek pembenahan fisik yang hanya menyedot anggaran tanpa edukasi dan ikhtiar menjadikannya situs wisata budaya yang mencerminkan tingginya nilai seni budaya warisan leluhur tersebut.
“Istana Maimon, Masjid Raya Al Mashun, Taman Sri Deli juga kawasan Kesawan layak dijual sebagai destinasi wisata budaya kota Medan,” urai Prof Hasim Purba yang juga menjabat Ketua Umum Korps Alumni HMI (KAHMI) Kota Medan.
Untuk itu, “Taman Sri Deli mesti dimurnikan bentuk aslinya seperti sedia kala, situs sejarah tak boleh diubah,” lanjut Hasim.
![Taman Sri Deli.[Don]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/02/taman-sri-deli.jpg)
“KAHMI Medan mendukung ikhtiar publik Medan untuk memerdekakan Lapangan Merdeka”, tegas Prof Hasim.
Saat ini kawasan Lapangan Merdeka Medan diubah menjadi pusat jajanan Merdeka Walk. Ichwan Azhari sejarawan asal Medan mengungkapkan, hadirnya bangunan usaha di kawasan Lapangan Merdeka mengaburkan sejarah Lapangan Merdeka.
![Lapangan Merdeka Medan.[Don]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/02/lapangan-merdeka-medan.jpg)
“Heroik sejarah pemuda Medan bisa terkikis jika Lapangan Merdeka dibiarkan seperti sekarang,” ujar Hasim Purba.
Dia melanjutkan, seyogianya pembangunan fisik yang dilakukan Pemko Medan tidak hanya mengejar aspek keuntungan ekonomi para pemodal, akan tetapi harus memperhatikan aspek lain termasuk sejarah, sehingga tidak anti sejarah.
“Jadikan Medan kota berbudaya,” tutup Hasim Purba kepada TransIndonesia.co.[Mj1]







