Perayaan Waisak di Borobudur.(ist)
TRANSINDONESIA.CO – Tempat sehebat dan sebagus apapun, baik alam maupun karya manusia, tatkala ditinggalkan dan tidak ada manusia yang memakainya, membutuhkanya maka akan hampa serta hilanglah kehebatanya.
Manusia memiliki raga, jiwa dan rasa. Ketiga hal inilah merupakan akal dan budi manusia untuk menjadikan tempat istimewa dan memiliki makna.
Manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan yang paling mulia, diberinya kebebasan karena sudah dibekali akal budi dan pikiran.
Tempat menjadi terkenal, hebat karena ada manusianya, apalagi manusia yang memiliki keistimewaan maka apapun yang dilakukan maupun yang ditinggalkan di suatu tempat akan menjadi ikon atau simbol yang sarat makna.
Rumah yang pernah ditinggali oleh nabi, orang suci, pahlawan, seniman, ilmuwan, atau siapa saja yang terkenal atau dikenal karena kompetensi, keahlian,integritas maupun karakternya maka akan menjadi tempat istimewa yang terus dikenang, dicari dan diminati manusia dari berbagai penjuru. Akan diteliti, dibahas, dimaknai, dijadikan ikon, dijadikan musium, dijadikan petilasan, dan lainnya.

Manusia menajid istimewa karena integritas, karakter dan karyanya, yang ditunjukan dari ketangguhan, kegigihan, keberanian, keyakinanan, kompetensi, yang mampu menginspirasi, mendorong atau memberdayakan orang lain berbuat baik serta memberi tahu hal baru, dan menghibur.
Karya manusia dalam pikiran, perkataan dan perbuatan akan menjadi keabadian. Tempat-tempat luar biasa pernah dibangun manusia (Angkor Wat, Borobudur, Manchu Picu, Salamanca) dan banyak lagi situs-situs lainya.
Tatkala ditinggalkan manusia hingga ratusan tahun tanpa makna, ketika ditemukan kembali dan digunakan kembali barulah ada makna dan menjadi tanda adanya kehidupan.
Tempat menjadi suci, indah, bermakna berharga karena manusia. Manusia-manusia luar biasalah yang mampu menjadikan sesuatu menjadi hidup, tumbuh dan berkembang.
Seburuk apapun tempat bila dibutuhkan dan digunakan manusia akan menjadi bermakna dan berharga.
Sebaliknya sehebat apapun jika tidak digunakan manusia ia bagai onggokan tidak lagi bermakna dan tidak lagi berharga karena tidak berguna.[CDL-08022016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







