
TRANSINDONESIA.CO – Dalam pementasan wayang kulit pada adegan goro-goro bagian yang paling dinanti-nanti para penonton. Pada bagian goro-goro ini akan keluarlah para Punokawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), bisa juga Togog dengan Mbilung, Limbuk dengan Cangik yang melucu atau melontarkan banyolan-banyolan untk melepaskan ketegangan atau sebagai bagian edukasi atau kritik.
Dalam konteks goro-goro ini kepiawaian dalang sangat menentukan lucu atau tidaknya pementasan goro-goro. Sekarang ini pada saat goro-goro bisa divariasi adanya bintang tamu (penyanyi / pelawak /sinden dari manca negara).
Dialog antar sesama Punokawan sarat makna yang merupakan suatu refleksi kehidupan hingga gerundelan-gerundelan kaum marginal, kaum lemah, papah dan hina yang tersingkirkan maupun terlupakan.
Dagelan para Punokawan dalam ungkapan dan bahasa yang sehari-hari digunakan, sehingga mudah dicerna akan memberi pelepasan atas kepenatan dan beban hidup yang berat.
Apa yang disampaikan para punokawan seringkali keluar tatanan atau pakem, penonton tidak mempedulikan yang penting mereka terhibur dan senang.
Wayang merupakan cermin dari kehidupan manusia yang sarat dengan berbagai masalah namun selalu ada solusi-solusinya baik secara langsung atau melalui perantara.
Punokawan ini golongan abdi kinasih yang menjadi perantara atau jembatani antara kelas dewa dengan manusia, antara ksatria dengan masyarakat biasa.
Goro-goro ini menjadi simbul peringatan atas hidup manusia sehingga tidak hanya sebatas menghibur melainkan juga memberi pencerahan apa yang semestinya dilakukan, apa yang akan terjadi dan tak jarang juga berisi wejangan-wejangan kehidupan.
Dalam kehidupan kita sering juga terjadi goro-goro yang dipertontonkan oleh kaum bendoro-bendoro yang semestinya diperankan kaum Punokawan.
Banyolan-banyolan politik, kebijakan-kebijakan yang salah sasaran, keserakahan, penyimpangan-penyimpangan sosial maupun hukum, sehingga yang semestinya menjadi tuntunan malah menjadi tontonan.(CDL-Jkt141215)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







