
TRANSINDONESIA.CO – Buah simalakama merupakan kiasan tidak adanya pilihan. Dimakan ayah mati, tidak dimakan ibu mati. Sama saja dengan maju kena, mundur kena, berarti harus diam saja mbegeeg.
Bagi buah simalakama tindakan penyelelamatannya hanya di emut. Solusi-solusi mbegegeg (diam) dan ngemut ini menjadi sesuatu yang abu-abu. Tindakan yang bukan pilihan.
Membunglon dan mencari selamat atau upaya mengadaptasi agar disini senang disana disayang. Sikap-sikap seperti ini bagi pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya akan membingungkan dan membuat timbul berbagai potensi penyimpangan.
Sikap ambigu inilah yang menjdi diskresi birokrasi yang berpotensi menjadi korupsi. Sebagai contoh, “atur-atur saja yang penting aman”.
Tidak tegas membolehkan namun tidak juga melarang. Perintah agar: “pinter -pinter”, yang bermakna bukan pinter beneran melainkan lihai dan mampu melakukan tipu-tipu.
Disinilah kelihaian dan kepiawaian memainkan sandiwara yang penuh tipu daya. Suka tidak suka karena itulah jalannya, ya harus dilaluinya dan dijalankan dengan suka cita walau kecut dan tidak sesuai dengan suara hatinya.
Kebijakan-kebijakan banci menyuburkan ladang KKN, mulut mengatakan jangan hati menginginkan, gerakan mengiyakan. Jarkoni, iso ngajar gak iso nglakoni. Apa yang diucapkan bertentangan dengan perbuatan.
Hidup penuh dengan kepura-puraan banyak langkah-langkah kontra produktif karena sikap mbegegeg dan ngemut tadi, sehingga jadilah mental-mental pengecut, penakut dan penghianat yang demi selamat dirinya tanpa memikirkan bagi rakyatnya.(CDL-Jkt06115)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







