
TRANSINDONESIA.CO – Ketika duduk, tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang basah dan lengket. Apa ya ini? Jangan-jangan telek? Namun masih ada keraguan, tapi dipegangnyalah pantatnya dan tangan yang sudah menyentuh yang basah tadi lalu diciumnya sambil berteriak “lha tenan to telek”.
Keraguan memang sering menjadi bagian dari pengambilan keputusan, namun ketika memutuskan salah malah bisa mengalami kesalahan bertumpuk.
Ketegasan, menjadi keyakinan dan bagian dari keberanian mengambil resiko. Pemimpin yang transformasi berani mengambil keputusan, berani berkorban dan mampu memberi solusi karena memiliki pengetahuan dan mimpi yang visioner untuk memberikan pembaharuan.
Pemimpin yang mlenyak-mlenyek akan membawa kesusahan bagi banyak orang setidaknya anak buahnya menjadi kebingungan karena semua ditimang-timang dalam keragu-raguan.
Kebijakan yang diambil tatkala penuh keraguan mengakibatkan terombang-ambingnya anak buah dan masyarakat yang dilayani. Keragu-raguan bisa menjadi kesesatan.
Pimpinan ragu disebutnya ketelitian dan kehati-hatian. Tapi sebaliknya, anak buah ragu langsung dijudge sebagai ketakutan.
Pemimpin kadang memang menang-menangan dan dimenangkan walau keputusan dan kebijakanya ternyata telek tetap dibenarkan, untung masih telek bukan bom.
Alasan-alasan pembenar sering menjadi topeng dan menjadi bagian make up penghibur dan pelipur lara walau sudah menduduki dan menciumi telek.(CDL-Jkt311015)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







