
TRANSINDONESIA.CO – Membantu tidak perlu menunggu sampai berlebihan dan menunggu sampai kuat. Peka dan peduli merupakan refleksi keimanan atas hidup kehidupan di sekitar kita.
Peka akan membawa pada sikap berbela rasa dan empati, peduli menunjukan kemauan dan keberanian untuk berkorban, membantu atau berbagi.
Tatkala melihat ketimpangan, kesusahan, permasalahan, konflik, atau masalah-masalah lainnya apakah kita menghindar atau berusaha memberi bantuan atau pertolongan?
“Wong legan golek momongan” pepatah Jawa mengatakan, yang dapat dimaknai dengan nambah-nambahi masalah atau mencari masalah baru yang menjadi beban. Kepekaan dan kepedulian untuk berbagi merupakan suatu kekuatan iman dan suatu kesediaan berkorban atau memberikan sesuatu demi kebaikan dan kebenaran.
Peka dan peduli menjadi ladasan iman untuk tidak serakah, arogan, menabur kebencian atau iri dengki, mengajarkan kekerasan.
Iman yang hidup akan menghidupkan dirinya, orang lain dan lingkunganya. Dalam berbagi ada suatu kerelaan atau ketulusan hati yang menjadi kekuatan untuk membangun kesadaran diri.
Berbagi, berbela rasa merupakan suatu getaran jiwa yang mau memberikan sesuatu bagi sesame dan lingkunganya. Kepekaan dan kepedulian untuk berbuat baik dan melakukan kebaikan dapat menjadi akar bagi pembangunan peradaban yang semakin manusiawi.
Kepekaan dan kepedulian juga merupakan keseimbangan antara manusia dengan sang penciptanya, manusia dengan sesamanya, manusia dengan lingkungan hidupnya.
Hidup adalah anugerah dan hidup adalah harapan, manusia sering karena keserakahannya justru menjadi serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).
Manusia semestinya menjadi homo homini salus (manusia mampu memanusiakan manusia lainya). Kekerasan, kerusakan, kehancuran dan penghancuran akan peradaban adalah produk dari keserakahan manusia, sehingga tidak lagi peka dan peduli.(CDL-060815)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







