
TRANSINDONESIA.CO – Memahami konsep multikulturalisme sebagai ideologi yang mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan bukanlah hal mudah dalam masyarakat yang majemuk, karena akan banyak menemukan diskriminasi, kebencian dan berbagai potensi konflik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Dalam masyarakat majemuk (plural society) potensi konflik dalam perebutan sumber daya dan perebutan pendistribusian sumber daya akan sangat mudah disulut dengan kebencian tatkala ada sistem yang tidak fair, penguasaan dengan cara instan dengan premanisme.
Ketidakpuasan, kekecewaan, luka batin akan menumpuk dan saling melabel satu sama lain. Penggunaan primordial akan menjadi alat atau sarana melegitimasi atau mencari solidaritas dengan hembusan kebencian.
Pendikotomian benar salah, mayoritas minoritas, baik buruk, akan dapat dikembangkan dengan label penodaan kesucian, penyalahgunaan dan berbagai potensi yang membuat rasa kebencian tertabur dalam image atau citra dalam hubungan interaksi diantara mereka.
Tatkala kebencian ini sudah mencapai puncaknya maka tinggal menunggu trigger atau detonatornya saja untuk diledakan menjadi konflik.
Biasanya akan dapat dipicu dari konflik pribadi yang dengan hembusan kebencian berbasis primordial akan menyulut amarah untuk saling menghancurkan.
Tindakan anarkisme memang akan mudah di design oleh aktor intelektual yang telah merancang atau menunggangi dan dengan cepat memanfaatkan isu-isu kebencian menjadi konflik.
Multikulturalisme dapat diajarkan atau ditanamkan dalam masyarakat agar memiliki pemahaman dan kekuatan serta penyadaran atas keberagaman, sehingga tidak mudah dihasut atau disulut untuk menjadi konflik.
Kelompok preman atau kelompok luka batin akan membangkitkan iri dengki sebagai landasan kebencian berbasis primordial.
Keyakinan atas kekuatan dalam kebhinekaan akan menjadikan penghormatan, pengakuan atas kesederajatan dan kesamaan hak untuk hidup dan menjalani kehidupan.
Multikulturalisme menjadi salah satu solusi memangkas jalur premanisme yang menyuburkan KKN maupun sistem yang tidak fair, instan dan mau menang sendiri.(CDL-Jkt160715)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







