
TRANSINDONESIA.CO – Kebenaran bukan karena dibenarkan, bukan pula karena pembenaran, bukan dipaksakan dan bukan pula karena kepentingan, bukan juga untuk kesenangan maupun menyenangkan.
Kebenaran adalah sesuatu yang diyakini benar baik keberadaannya, fungsionalnya hingga dampaknya.
Benar bukan karena pamrih untuk mendapatkan hadiah atau sesuatu, juga bukan karena ketakutan akan hukuman atau ancaman bahkan karena dosa.
Benar hakikinya tetap benar walau semua orang mengatakan salah, tatkala itu benar yakinlah benar akan tetap benar. Sampai kapanpun akan terjaga dan terungkap kebenaranya seandainya dipersalahkan.
Benar bukan berarti menyalahkan atau mencari kesalahan dan memaksakan. Benar yang hakiki adalah wise dan humble.
Ada sebuah cerita yang menggambarkan suatu parodi kebenaran “pada suatu pagi Jacob sedang pulang kerumah dengan kondisi mabok berat, dijalan ia bertemu dengan seseorang yang sedang berolah raga pagi sambil menuntun anjingnya. Tiba-tiba Jacob berteriak ; hei…mengapa engkau menuntun kambing pagi-pagi begini? Orang yang menuntun kambing terkejut dan balas menjawab; Jacob, butakah engkau? aku menuntun anjing bukan kambing! Jacob berteriak menjawab; diam kau, aku sedang berbicara dengan anjing itu!”.
Ceritera diatas menjadikan kita sadar tatkala yang benar disalah-salahkan, tatkala ingin menunjukan yang benar malah diserang dan di bodoh-bodohkan.
Kebenaran tetap kebenaran, walau mabok sebenarnya Jacob cukup waras untuk menilai mana anjing dan mana orang.
Tatkala benar dipaksakan, benar diisi untuk menyalahkan, benar yang sudah bayaran, maka benar ala Jacob itulah yang terjadi. Kebenaran adalah wise dan humble, bukan sok-sokan dan bukan karnavalan.(CDL-Jkt110715)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







