
TRANSINDONESIA.CO – Edukasi memang sekarang menjadi barang mewah dan langka tatkala akan mendapatkan ajaran-ajaran yang bermutu.
Sekolah menjadi kebanggaan untuk diakui dalam sebuah kasta atau golongan. Pendidikan menjadi beban, membuat pening karena dianggapnya yang berat-berat akan membuatnya hebat.
Tak jarang kualitas guru-guru pun diragukan. Guru-guru sering tak mendapatkan perhatian sehingga terpaksa mencari uang tambahan.
Sekolah kadang hanya menjadi ajang gagah-gagahan dan pamer kemewahan. Yang dikampung terpencil terpaksa harus menangis-nangis sambil mengemis-ngemis untuk mendapat pendidikan yang layak.
Pemdidikan yang dicapainya tak jauh dari pendidikan yang seadanya itupun dengan susah payah menuju ke sekolah dengan jalan naik turun bukit dan menyeberang sungai.
Tatkala musim hujan dan banjir terpaksa sekolah diliburkan. Tatkala jembatan putus iapun terpaksa harus menunggu. Tatkala jembatanya melambai-lambai haya ada seutas tali terpaksa harus berani bertarung dengan nyawa.
Padahal ia bukan pasukan berani mati tetapi karena terpaksa, karena yang dipercaya tak lagi berhati nurani. Yang mewakili asik dengan mainannya sendiri.
Siapa berani mengetuk hati nurani sang naga yang sedang tertidur nyenyak kelelahan di singga sananya? Edukasi selain memandaikan otak menguatkan otot dan membuat hati nurani peka.(CDL-Jkt110515)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







