
TRANSINDONESIA.CO – “Adi 5 x 5 berapa? Adi dengan lantang menjawab 25 bu”. Anak-anak hafal, tatkala ditanya mengapa hasilnya 25 mereka tidak tahu.
Ada yang menjawab kata guru 25. Para murid menghafal rumus-rumus setengah mati tanpa tahu dimana jalanya untuk menemukan hasil tersebut.
Mereka diajar mengekor, atau menjabarkan kata orang lain. Dampaknya tatkala sudah dewasa dan menjadi pejabat atau yang mempunyai posisi penting.
Banyak kebijakan-kebijakan dan program yang bagus namun proses pencapaiannya tidak dijabarkan. Parahnya, dari atas sampai bawah menghafal mati program-program itu.
Kita masih ingat 10 program pokok PKK yang dipasang disetiap gang, di kampong-kampung. Ibu-ib sampai anak kecilpun tahu bahkan hafal, namun tatkala ditanya apa langkah-langkah yang dilaksanakan sebagai jabaran program?
Dapat dipastikan semua diam atau malah saling bisik-bisik bertanya satu dengan yang lainya. Kini program itu sudah hilang dan dilupakan, bahkan jadi bahan plesetan dalam panggung komedi.
10 pokok program PKK hanyalah satu contoh dari ribuan program given dari atas, yang dihafalkan dan hilang setelah ganti pimpinan.
Hampir setiap pemimpin membuat program baru namun hasilnya GGA (Gini-gini Aja).
Produk belajar menghafal akan tidak mampu menjabarkan atau mencari jalannya. Selalu ingin mencontek,mengekor,meneruskan tanpa menjabarkan.
Tahu tujuan tanpa tahu proses atau jalannya?. Keberanian mencari jalan, menemukan cara, menjelaskan proses atau tahapan-tahapan yang hampir tidak pernah dilakukan.
Keinginannya ditabur benih langsung panen raya, akhirnya semua tipu-tipu, kepura-puraan, seremonial. Sedangkan kondisi yang diharapkan lagi-lagi hanyalah produk hafalan dan mengekor saja.
Saat ujian wawancara, salah seorang penguji mengatakan, “tulisan kamu ini tidak ada kondisi yang diharapkan”, “Si teruji kaget setengah mati. ada pak di halaman 24-29?”.
Si penguji berkata lagi, “mana… Ini semua hanya tulisan”, lalu si terujipun, kaget dan baru sadar, si penguji mengharapkan amplop sebagai kondisi yang diharapkan.
Setelah diberikan, “ini pak lampirannya”, si penguji tersenyum dengan mengatakan “karena sudah tahu cara mencapai kondisi yang diharapkan”.(CDL-Jkt160415)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







