
TRANSINDONESIA.CO – Cuaca buruk diduga menjadi penyebab utama hilangnya AirAsia QZ8501. Pasalnya, maskapai AirAsia memastikan pesawatnya layak terbang, dan telah melakukan perawatan berjadwal terakhir 16 November 2014. Pesawat tersebut juga dibuat pada 2008.
Communications AirAsia Indonesia Malinda Yasmin mengemukakan, pesawat itu dalam kondisi laik terbang dan dikemudikan oleh pilot berjam terbang tinggi, Kapten Irianto. Sang pilot sudah mengumpulkan total 20.537 jam terbang, dan 6.053 jam terbangnya dengan AirAsia Indonesia.
“Sementara first officer (kopilot Remmi Emanuelle Plesel) memiliki 2.247 jam terbang,” kata Malinda di Jakarta.
Pencarian Pesawat
Begitu pesawata dinyatakan hilang, proses pencarian langsung dilakukan. Tim pencari berada di bawah koordinasi Badan SAR Nasional (Basarnas) dan Kementerian Perhubungan (Kemhub). “Kami mendukung penuh pihak otoritas penerbangan, dan kooperatif dalam proses investigasi yang tengah berlangsung,” tandas Malinda.
Kapuspen TNI Mayjen TNI M Fuad Basya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (28/12/2014), mengatakan, TNI membantu mencari dengan mengerahkan 5 pesawat dan 3 KRI ke lokasi yang diperkirakan sebagai wilayah hilang kontak pesawat AirAsia QZ8501.
Fuad menambahkan, kelima pesawat tersebut adalah tiga dari TNI AU, yaitu satu pesawat Boeing 737 Surveilance yang diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma, satu pesawat diberangkatkan dari Makassar dan satu pesawat Heli dari Pontianak. “Sedangkan dua pesawat lainnya yaitu pesawat patroli dari TNI AL,” imbuh Fuad.
Disamping itu, TNI juga mengerahkan tiga kapal perang (KRI) menuju lokasi. Pengerahan 3 kapal itu dilakukan bersama dengan komponen lain untuk mencari pesawat yang sempat terpantau radar milik TNI AU yang berada di Korhanudnas HAS Hanandjoeddin.
Plt Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo mengatakan total jumlah armada yang dikerahkan untuk mencari AirAsia mencapai 7 pesawat.
Guna mencari pesawat tersebut, 5 negara tetangga mengatakan siap membantu. Bahkan kelima negara tersebut telah menawarkan bantuan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
“Negara Australia, Singapura, Inggris, Korea Selatan, dan Malaysia, mereka sudah siap membantu pencarian,” ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi di Kantor Otoritas Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.
Dia mengaku menyambut baik tawaran bantuan tersebut. Namun saat ini pihaknya masih berupaya memaksimalkan semua sumber daya yang ada untuk mencari pesawat tersebut.
“Sementara ini semua tenaga masih dari Indonesia. Kita masih coba cari dengan semaksimal mungkin,” tutur dia.
Tatang juga belum berani menyebutkan penyebab hilangnya AirAsia. Dia mengatakan, jajarannya masih melacak keberadaan pesawat tersebut lewat sinyal dari Emergency Locator Tramsiter (ELT) maupun sinyal Ping.
“Saya jarang berpikir terburuk, pegangan dari seorang investigator tidak boleh menempatkan spirit dalam posisi negatif. Jadi kita tetap optimis bisa ditemukan,” ujarnya.(lp/lin)







