
TRANSINDONESIA.CO – Mahasiswa Bangkalan, Jawa Timur, Senin (24/11/2014), menggelar demonstrasi dengan menggigit jari untuk menolak kebijakan pemerintah menaikkan bahan bakar minyak (BBM).
Aksi mahasiswa yang mengatasnamakan diri Aliansi Mahasiswa Madura Raya (Ammara) itu untuk sindiran kepada kenaikan harga BBM membuat rakyat gigit jari.
“Masyarakat kini sengsara akibat kenaikan BBM ini dan hanya bisa gigit jari. Salam gigit jari,” kata korlap aksi itu, Afrizal.
Jumlah mahasiswa yang berunjuk rasa menolak kenaikan BBM ini hanya 11 orang, tetapi aksi mereka membuat arus lalu lintas di Jalan Soekarno-Hatta Bangkalan menjadi terganggu.
Hal itu terjadi karena mahasiswa pengunjuk rasa sempat berupaya menutup akses jalur lalu lintas di jalan itu, namun dapat dicegah petugas kepolisian Polres Bangkalan.
Selain berorasi, mahasiswa juga menyanyikan lagu “Salam Gigit Jari” yang berisi sindiran kepada pemerintah terkait kebijakan menaikkan BBM yang menurut mahasiswa membebani rakyat kecil.
“BBM naik lagi, pengamat sibuk berdiskusi, Salam Gigit Jari,” demikian salah satu bait lagu yang dinyanyikan mahasiswa.
Menurut korlap aksi Afrizal, pada APBN 2013 tidak semua anggaran terserap, bahkan masih banyak yang tersisa. Dana subsidi BBM hanya Rp211,9 triliun, lebih sedikit dari dana yang tidak terserap.
“Belum lagi anggaran APBN yang dikorupsi oleh oknum pejabat pemerintah yang nilainya juga mencapai triliunan rupiah,” katanya.
Hasil sensus ekonomi Nasional (Susenas) 2010 menunjukkan bahwa pengguna BBM 65 persen adalah rakyat kelas bawah, 27 persen menengah dan sisanya sebanyak 6 persen untuk menengah ke atas dan 2 persen orang kaya.
Dari jumlah tersebut, kendaraan sepeda motor di Indonesia mencapai 53,4 juta (2010). Dari jumlah tersebut 82 persen merupakan kendaraan roda dua yang rata-rata milik rakyat kecil.
“Dari data ini jelas, kenaikan BBM menyengsarakan rakyat kecil. Apalagi dampaknya membuat harga kebutuhan bahan pokok juga ikut naik,” terangnya.
Afrizal juga menjelaskan saat ini banyak perusahaan asing yang ingin menguasai sumber migas di sektor hilir dan mereka mulai “mengebiri” bangsa dan rakyat Indonesia.
“Melalui aksi ini, kami meminta Presiden mengkaji ulang, bahkan membatalkan kebijakannya menaikkan harga BBM,” pintanya.
Demo menolak kenaikan BBM oleh aktivis mahasiswa Bangkalan ini mendapatkan pengawalan ketat aparat kepolisian Polres Bangkalan.
Sekitar 30 personel polisi dari berbagai satuan, yakni Satuan Samapta, Lalu Lintas, Intel dan Reskrim diterjunkan mengamankan penyampaian aspirasi di depan umum oleh kelompok mahasiswa Bangkalan itu.(ant/ats)






