
TRANSINDONESIA.CO – Mendapat peringkat pertama kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) se Kota Medan, Camat Medan Helvetia bersama jajarannya lurah, Kepala Lingkungan (Kepling) dan puskesmas terus melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat untuk lebih sadar dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Jumat (14/11/2014) di Lingkungan I Kelurahan Tanjung Gusta Kecamatan Medan Helvetia.
Camat Medan Helvetia, Abdul Rahman Pane, bersama Lurah Tanjung Gusta, Riswan Sihombing, Kepling I Tanjung Gusta, Chairawati beserta seluruh kepling lainnya dan tim puskesmas, menyisir setiap rumah-rumah warga agar penyebaran nyamuk Aedes Aegypti dapat diberantas.
Abdul Rahman Pane, menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan puskesmas melakukan sosialisasi bersama kepala sekolah, ibu-ibu pengajian dan seluruh Kepling se Kecamatan Medan Helvetia untuk mengajak masyarakat aktif setiap minggunya melakukan PSN. Namun memang, karena banyak masyarakat yang belum paham, maka kasus DBD disepanjang tahun ini meningkat khususnya di Lingkungan I Kelurahan Tanjung Gusta.
“Kesadaran masyarakat untuk PSN memang dibutuhkan. Apalagi ini lagi musim hujan, sehingga kalau lingkungan tidak bersih dan wadah-wadah penampung air dibiarkan, maka menjadi penyebaran nyamuk Aides,” ujarnya kepada Transindonesia.co, Jum’at (14/11/2014).
Untuk se Kecamatan Medan Helvetia, diakuinya, lingkungan I Kelurahan Tanjung Gusta memiliki kasus terbanyak yakni hingga September-November 2014 ada 42 kasus dan 2 orang meninggal dunia, disusul Kelurahan Helvetia.
“Ini juga karena di kawasan tersebut, jumlah penduduknya sangat padat dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat masih kurang,” ucap Pane.
Pengendalian nyamuk Aedes ini, lanjutnya harus dilakukan seluruh pihak karena ini bukan hanya tanggungjawab pemerintah tapi juga masyarakat.
“Jarak nyamuk itu menetas 5 hari, apalagi suhu hujan panas seperti ini membuat nyamuk lebih cepat berkembang biak. Kita harapkan masyarakat ini dapat memutuskan siklus ini, dengan kesadaran masing-masing, dan jangan hanya mengandalkan fogging saja. Karena fogging dilakukan kalau ada kasus, lagian fogging hanya membasmi induknya saja,” ungkapnya.
Lurah Tanjung Gusta, Riswan Sihombing, mengakui, di kelurahan Tanjung Gusta paling banyak ditemukan kasus DBD sepanjang tahun 2014 sekitar 21 kasus dan 2 orang meninggal dunia. “Masyarakat banyak yang tidak mau membersihkan lingkungannya, membiarkan barang-barang bekas. Padahal setiap minggunya kita selalu mengajak masyarakat untuk gotong royong bersama khususnya PSN agar tidak ada lagi korban DBD,” tuturnya.(dhon)





