TRANSINDONESIA.CO – Penampilan Cawapres nomor urut dua Jusuf Kalla (JK) dinilai emosional dalam acara debat terakhir yang dilakukan di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Pasalnya JK kembali menyerang pribadi pasangan Capres-cawapres nomor urut 1 yakni Prabowo-Hatta.
“JK terlalu emosional. Banyak orang menilai penampilannya di debat keempat tidak sebaik di debat pertama, makanya dia ingin menunjukan kemampuannya di debat kelima,” ujar pakar komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio saat dihubungi, Minggu (6/7/2014).
Menurutnya, Hatta sudah menduga JK akan melontarkan pertanyaan nostalgia. Misalnya mengenai kebijakan impor beras. Namun Hatta menyikapinya dengan tenang, dengan menyampaikan fakta dan data terkait hal tersebut.
“Itu kelihaian Hatta dalam menjawab pertanyaan atau tekanan yang dilancarkan JK. Hatta sudah sangat siap dengan pertanyaan nostalgia,” katanya.
Hendri menambahkan, penyampaian visi misi Hatta terkait pangan, energi, dan lingkungan, lebih terstruktur ketimbang JK. Cara penyampaian Hatta juga lebih elegan daripada JK.
“Hatta tampil sangat elegan, meneruskan kegemilangannya saat debat keempat. JK gagal merebut supremasi dari Hatta,” imbuhnya.
Selain penampilan JK yang emosional, penampilan Capres Joko Widodo (Jokowi) juga tak konsisten, sebab dia menyebutkan jika pelaksanaan lebih penting daripada perencanaan.
Namun hal ini tidak terlihat dalam kinerja Jokowi selama menjadi Gubernur DKI Jakarta. “Banyak yang tidak sesuai omongannya. Jangan bicara komitmen, karena banyak hal di Jakarta yang masih level perencanaan dan belum sempat dilaksanakan, tapi Jokowi cuti meninggalkan Jakarta,” terangnya.
Pernyataan yang diulang-ulang itu diakui Hendri membuat banyak orang jengah. Berbagai persoalan di Jakarta yang belum terselesaikan menjadi tolak ukur kinerja Jokowi.
“Jakarta belum beres. Kalau memang bilang melaksanakan, ya sampai selesai. Jangan pelaksanaan belum selesai, ditinggal,” tandasnya.(ini/sof)








