Kantor Pusat Bank Indonesia.(dok)
TRANSINDONESIA.CO – Sejak diluncurkan pada 20 Februari 2010 lalu, Program Edukasi Keuangan dengan Produk TabunganKu sangat diminati masyarakat dan berjalan lancar. Di Sumatera Utara (Sumut), total nasabah sudah mencapai 77.015 rekening dengan saldo mencapai Rp120,08 miliar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah IX Sumut-Aceh Difi A Johansyah mengatakan, produk TabunganKu menunjukkan pertumbuhan yang positif secara nasional. Hingga triwulan I 2014, jumlah rekening TabunganKu secara nasional mengalami peningkatan sebesar 10,58 persen 10,62 juta rekening menjadi 11,74 juta rekening dengan saldo rata-rata sebesar Rp800 ribu.
“Dari total angka itu, berdasarkan laporan perbankan di Sumut, saldo TabunganKu di daerah ini mencapai 77.015 rekening dengan total saldo sebesar Rp120,08 miliar,” ujarnya di Medan, Rabu (4/6/2014).
Difi menyebutkan, TabunganKu merupakan produk tabungan untuk perorangan Warga Negara Indonesia (WNI) dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara bersama-sama oleh bank-bank di Indonesia guna menumbuhkan budaya menabung di masyarakat. Kelebihan produk TabunganKu adalah bebas administrasi bulanan, setoran awal ringan yaitu sebesar Rp20 ribu dan minimum setoran selanjutnya Rp10 ribu.
“Pembukaan rekening, transaksi penarikan tunai dan pemindahbukuan melalui counter bank dapat dilakukan di seluruh jaringan penerbit bank yang sama. Program ini dilaksanakan oleh 23 bank pelaksana,” jelasnya.
Dengan program ini, lanjut Difi, diharapkan masyarakat bisa lebih mengenal perbankan. Tidak lagi menyimpan uang di rumah, baik itu dalam celengan atau bahkan hanya diletakkan di bawah bantal. Tidak hanya masyarakat umum, pihaknya berharap kalangan pelajar juga tertarik untuk mulai menabung di bank.
“Dengan berbagai kemudahan itu terutama nominal setoran awal maupun setoran selanjutnya yang sangat ringan, tentu tidak ada kendala bagi pelajar untuk menabung di bank. Jadi diharapkan seluruh masyarakat sudah mengenal bank melalui gerakan ini,” jelasnya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Muhammad Ishak mengatakan, program ini tidak bisa dikatakan sukses. Karena penetrasinya hanya di kawasan perkotaan sedangkan pedesaan masih belum tersentuh bank hingga sekarang.
“Kalau mau dikatakan sukses, tentu belum bisa. Memang dari sisi angka sudah banyak nominal yang terkumpul dari program ini tapi bagaimana dengan jumlah orangnya. Saya rasa belum sebanding dengan seluruh jumlah penduduk di daerah ini,” tuturnya.(dhon)







