Liqo Rutin Sabtu Malam bersama Pimpinan Ponpes Al-Marhamah Khairu Ummah, Ustadz H. Mohamad Subchansyah. Transindonesia.co / Dokumentasi
TRANSINDONESIA.co | Sombong, angkuh, dan ujub merupakan penyakit hati yang haram dalam Islam karena menjadi penghalang utama seseorang masuk surga. Tulisan ini mengulas bahaya sikap meremehkan orang lain dan menolak kebenaran melalui panduan Surah Luqman ayat 18, hadis Nabi SAW, serta iktibar sejarah dari kehancuran Qarun, Firaun, hingga pengusiran Iblis.
Larangan Bersikap Sombong
Allah SWT mengingatkan hamba-Nya agar tidak memalingkan wajah dari manusia karena merasa diri lebih penting, lebih berilmu, atau lebih terpandang.
Sikap meremehkan orang lain dan menganggap orang lain tidak memiliki kemampuan selevel dirinya merupakan bentuk kesombongan yang nyata.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّا سِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَ رْضِ مَرَحًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَا لٍ فَخُوْرٍ
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Hakikat Sombong dan Ujub
Secara hukum Islam, bersikap sombong dan ujub (merasa kagum atau hebat dengan diri sendiri) adalah haram. Keduanya saling berkaitan dan menjadi penyakit hati yang sangat berbahaya.
Ketika hati mengunci diri dari kritikan, nasihat, dan masukan orang lain, keengganan mengakui kebenaran hanya karena merasa diri paling tahu menjadi awal dari datangnya sifat sombong dan ujub.
Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam hadisnya:
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat sebesar dzarrah (biji atom) kesombongan.”
Hakikat kesombongan adalah ketika seseorang mengetahui kebenaran lalu menolaknya, atau ketika ia memandang rendah dan meremehkan sesama manusia.
Pelajaran Sejarah Umat Terdahulu
Imam An-Nawawi mengkisahkan untuk mengingatkan rekam jejak sejarah umat terdahulu untuk membedakan antara kebenaran dan kesombongan.
Kaum Firaun berbuat zalim karena kekuasaan, seperti Qarun menyombongkan harta kekayaannya. Ketika Qarun diingatkan agar tidak sombong, ia justru memamerkan hartanya dan menolak nasihat dan ajakan kebaikan kaum Nabi Musa AS.
Allah SWT mengingatkan bahwa umat-umat terdahulu yang jauh lebih kuat dan lebih kaya pun telah dibinasakan akibat kesombongannya.
Iblis pada awalnya berada di tempat yang mulia di surga. Namun, karena membangkang dan enggan tunduk pada perintah Allah akibat rasa sombong dan ujub, Iblis akhirnya dikeluarkan dari Surah Allah.**
Disarikan dari penyampaian Tausiyah Liqo Rutin Sabtu Malam bersama Pimpinan Ponpes Al-Marhamah Khairu Ummah, Ustadz H. Mohamad Subchansyah.






