BPBD Kabupaten Bantul bersama masyarakat melakukan evakuasi terhadap pohon tumbang di wilayah terdampak angin kencang, Kamis (29/1/2026). Transindonesia.co / Pusdalops BPBD Kabupaten Bantul
TRANSINDONESIA.CO | BANTUL – Eskalasi bencana hidrometeorologi di Indonesia dalam 24 jam terakhir mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 31 Januari 2026, total tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat tanah longsor, yakni dua orang di Kabupaten Pemalang dan satu orang di Kota Bogor. Selain korban jiwa, ribuan warga di Jawa Barat, NTB, dan Sulawesi kini tengah berjuang menghadapi dampak banjir dan angin kencang.
“BNPB bersama pemerintah daerah dan unsur terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak di seluruh titik bencana,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya diterima redaksi, Sabtu (31/1/2026).
Di Jawa Barat, Kabupaten Indramayu mencatat dampak banjir terluas setelah luapan Sungai Cilalanang merendam 275 rumah dan 500 hektare persawahan pada Jumat (30/1). Sebanyak 825 jiwa terdampak dan 166 di antaranya terpaksa mengungsi.
Sementara itu, di Kota Bogor, longsor menelan satu korban jiwa dan merusak 12 rumah, sedangkan di Kabupaten Bogor, angin kencang menyebabkan 11 rumah rusak berat hingga sedang pada Sabtu (31/1).
“Khusus di wilayah Bogor dan Indramayu, tim BPBD setempat masih bersiaga di lapangan. Meskipun di beberapa titik air mulai surut, status siaga darurat tetap diberlakukan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem susulan,” jelas Abdul Muhari.
Situasi darurat juga masih berlangsung di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Sebanyak 311 kepala keluarga terdampak banjir bandang yang dipicu hujan lebat.
Pemerintah daerah setempat telah menetapkan masa tanggap darurat hingga 3 Februari 2026 untuk memastikan distribusi bantuan logistik menjangkau seluruh warga yang terisolasi.
“Wilayah Bima saat ini fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. Masa tanggap darurat diberikan agar birokrasi penanganan bencana bisa berjalan lebih cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.
Bergeser ke wilayah Sulawesi, banjir di Kabupaten Boalemo merendam 233 unit rumah dan berdampak pada 585 jiwa.
Berbeda dengan Kota Depok yang melaporkan banjir setinggi 80 rumah sudah surut total, kondisi di Boalemo dilaporkan masih tergenang.
Hal yang sama terjadi di Bantul, DIY, di mana akses 22 jalan yang tertutup akibat angin kencang masih dalam proses pembersihan oleh petugas gabungan.
“Banjir di Boalemo dilaporkan belum surut sepenuhnya. Kami meminta tim di lapangan untuk terus memantau perkembangan cuaca guna menghindari adanya banjir kiriman susulan,” ungkapnya.
Menutup laporan tersebut, BNPB memperingatkan bahwa puncak musim hujan masih membayangi sebagian besar wilayah Indonesia. Masyarakat yang tinggal di lereng perbukitan dan bantaran sungai diminta untuk melakukan evakuasi mandiri jika melihat intensitas hujan yang tinggi berlangsung lebih dari satu jam tanpa henti.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi. BNPB akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan perlindungan masyarakat berjalan optimal,” pungkas Abdul Muhari. [nag]
