Kondisi banjir yang melanda pemukiman warga di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat (23/1/2026). Sumber foto: BPBD Kabupaten Sumbawa.
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor masih mendominasi wilayah Indonesia hingga Sabtu (24/1/2026). Berdasarkan data Pusdalops BNPB periode 23-24 Januari, wilayah Kabupaten Situbondo, Sumbawa, dan Bogor menjadi daerah dengan dampak paling signifikan.
“Peristiwa bencana yang tercatat masih didominasi oleh jenis bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan angin kencang di beberapa titik pantauan,” ujar Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026).
Di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, banjir yang dipicu hujan lebat sejak Rabu (21/1/2026) telah merendam 6 desa di 5 kecamatan, mengakibatkan 2.822 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Mengingat eskalasi bencana, Gubernur Jawa Timur telah menetapkan status siaga darurat bencana selama 155 hari, terhitung hingga 1 Mei 2026 mendatang.
“Dalam rangka upaya percepatan penanganan darurat, Gubernur Jawa Timur menetapkan status siaga darurat bencana dari 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026,” tambahnya.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Sumbawa, NTB, juga dihantam banjir dan tanah longsor pada Jumat (23/1/2026) yang merambah 12 desa dan 5 kelurahan di 8 kecamatan. Lebih dari 1.587 KK terdampak akibat intensitas hujan yang sangat tinggi. Di Jawa Barat, tepatnya Kabupaten Bogor, jebolnya turap Setu Lampiri mengakibatkan 78 unit rumah di Rumpin dan Parung Panjang terendam air.
“Petugas BPBD setempat terus berkoordinasi dengan aparat desa untuk melakukan pendataan, distribusi logistik, dan perbaikan tanggul yang jebol,” jelas pernyataan resmi BNPB.
Melihat kondisi di lapangan, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. Warga diminta melakukan evakuasi mandiri jika hujan berintensitas tinggi terjadi dalam durasi lama serta terus memantau informasi cuaca resmi.
“Kesiapsiagaan ini diperlukan para warga untuk menyikapi tidak hanya ancaman potensi risiko bahaya hidrometeorologi basah, tetapi juga dampaknya secara luas,” tegas Abdul Muhari.
Berdasarkan prakiraan BMKG untuk periode 25-26 Januari 2026, potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih mengintai wilayah Bali, Pulau Jawa, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Papua, dan Sumatera Selatan. Kondisi ini diprediksi masih berisiko memicu bencana susulan di hari-hari mendatang. [nag]
