Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Alam (Satgas Gunbencal) bersihkan tumpukan kayu gelondongan dan material lumpur yang menimbun kawasan Pondok Pesantren Islam Terpadu Darul Mukhlisin, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (25/12/2025). Transindonesia.con/Ist
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra sejak penghujung tahun 2025 kini telah mencapai puncaknya dengan dampak kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 11 Januari 2026, tercatat sebanyak 1.182 jiwa dinyatakan meninggal dunia.
Angka kematian yang masif ini tersebar di tiga provinsi utama, yakni Aceh dengan 543 korban jiwa, Sumatra Utara dengan 371 korban jiwa, dan Sumatra Barat dengan 264 korban jiwa. Selain korban meninggal, sebanyak 145 orang dilaporkan masih hilang dan dalam proses pencarian intensif.
Tragedi besar ini berawal pada minggu terakhir Desember 2025, ketika intensitas curah hujan ekstrem yang dipicu oleh fenomena atmosfer regional mengguyur sebagian besar pesisir barat dan utara Sumatra. Curah hujan yang turun dalam durasi panjang tersebut menyebabkan debit air sungai-sungai besar meluap seketika, memicu banjir bandang yang menghantam pemukiman warga saat mereka sedang beristirahat. Kondisi topografi Sumatra yang berbukit juga memperparah keadaan, di mana tanah longsor skala besar terjadi secara simultan di wilayah pegunungan, memutus akses jalan utama dan menimbun ratusan rumah penduduk dalam hitungan menit.
Skala kehancuran ini memaksa 238.627 warga meninggalkan rumah mereka yang kini sebagian besar sudah rata dengan tanah atau terendam lumpur. BNPB melaporkan bahwa sekitar 28.000 unit rumah mengalami kerusakan berat, yang memaksa para penyintas untuk bertahan hidup di posko-posko pengungsian sementara dalam kondisi yang memprihatinkan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberikan pernyataan resmi terkait perkembangan situasi.
“Kami berduka sedalam-dalamnya atas jatuhnya 1.182 korban jiwa dalam bencana ini. Kejadian yang bermula dari intensitas hujan ekstrem di akhir tahun ini telah berkembang menjadi salah satu tantangan penanganan bencana tersulit bagi kami. Validasi data terus kami lakukan setiap jam untuk memastikan setiap korban teridentifikasi dengan benar. Meskipun pencarian skala besar telah menyesuaikan fase, tim SAR tetap dalam posisi siaga penuh untuk menindaklanjuti laporan sekecil apa pun mengenai keberadaan 145 warga kita yang masih hilang,” ujar Muhari, Senin (12/1/2026).
Pemerintah melalui BNPB juga telah memperpanjang status Tanggap Darurat di Provinsi Aceh hingga 22 Januari 2026, mengingat masih banyaknya wilayah yang terisolasi akibat infrastruktur jembatan yang hancur total sejak awal bencana terjadi. Fokus utama saat ini adalah memastikan pasokan logistik menjangkau daerah-daerah terpencil serta mempersiapkan skema relokasi bagi warga yang tinggal di zona merah rawan longsor. [don]
