TRANSINDONESIA.co | Oleh: Kalemdiklat Polri Komisaris Jenderal Polisi Prof. Dr. Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.
Bajing atau tupai, binatang pemakan kelapa. Bajing kalau makan kelapa, satu buah saja masih tersisa. Mbajing bisa dimaknai melakukan tindakan yang kontra produktif bisa saja berkaitan dengan kejahatan. Bajingan ungkapan sarkas dan kasar atau umpatan untuk orang orang yang jahat dan menjengkelkan.
Waau sejatinya istilah untuk gerobak sapi, namun pada umumnya merupakan suatu sengatan keras, rasa benci juga dendam. Bagi profesi apa saja yang baik dan benar, dan profesional maupun orang yang terpelajar, bagi orang jawa kata atau ungkapan bajingan tidak pantas diucapkan sekalipun hatinya marah.
Bajingan dalam makna bahasa ada rasa dan tuduhan: licik, penuh dengan cara curang, menghalalkan segala cara, berani meminta dan mengatur jabatan dan kekuasaan untuk disalahgunakan penuh dengan kejumawaan dan ketamakan.
Tak heran tatkala ada yang mengungkapkan kata tadi bagi pemimpin atau pejabat yang baik dan benar, reaksi keras di mana mana.
Apapun alasan pembenarannya tetap dianggap tidak pantas karena dianggap sebagai sesuatu penghinaan. Apalagi bagi orang orang yang dohormati.
Keras dan pedasnya kritik bukan berdasar kata kata yang kasar yang justru menghilangkan esensinya.
Berani kasar bukan hebat malahan memalukan karena menyelesaikan konflik konflik dengan cara tidak beradab atau ala preman adu okol tanpa akal.
Fenomena di atas menjadi pelajaran adab bagi kita semua. Kita bisa belajar dan bercermin dari karya para kartunis dan karikaturis mengkritik, menjadikan model gambar tokohnya dipletat pletotkan ala kartun satir dan surealis namun fun atau mengundang tawa. majinasi karikatural atau kartunal dapat digunakan sebagai refleksi atau cermin diri untuk berbenah atau setidaknya kembali ke jalan kewarasan tanpa tendesi kebencian. Lihat saja karya : Agustin Sibarani, Gm Sudarta, Pramono Pramudjo, Dwi Koendoro, Gatot Eko Cahyono, Non O ( Sudi Purwono), Anwar Rosyid, Libra, Jhoni Hidayat, Subro, Ashady, Jitet Kustana, Benk Rahardian, Ifoed, Dian Bijac, Wawan Bastian, dsb. Karya karya kelompok Pakarti, Kokang, Secac, Pakyo, Pakarso, dan masih banyak lagi. Mereka kritis mengkritik namun sense humornya tidak hilang.
Para Komika, para pelawak seperti Cak Lontong, Warkop, dll juga kritis namun tetap menghibur. Para Profesor dan pakar yang kritikannya pedas keras namun adabnya tetap terjaga.
Refelksi Bajingan mbajing tatkala digambarkan dalam karikatur yang satir, surealis dan imajinatif, waras namun tetap menjaga adab dalam kelucuannya antara lain;
1.” Bajing Mbajing, ala preman : wani piro, oleh opo.
2.” Bajing koplak.
3.” Bajing pion ”
4.” Bajing loncat ”
5.” Bajing” mencla mlence, esuk dele, sore tempe, malem tahu
6.” Bajing njegogi Singo
7.” Bajing Wedhus kambing ngembeek.
8.” Bajing luwe ”
9.” Mimpi Bajing dadi Bajingan”
10.” Bajing berbulu domba”
11.” Prewangan Bajing”
12.” Sponsor Bajing”
13.” Bajing bingun di antara anjing dengan kambing”
14.” Logika Koprol ala Bajing”.
15.” Bajing Legowo, wis ngeleg isih nggowo”.
16.” Seremonial Bajing”
17.”Jebakan Bajing”
18.” Sarang Bajing ”
19.” Bajing layu sebelum berkembang”
20.” Topeng Bajing”
22.” Bajing Ngenthit”
23.” Mafia Bajing”
24. ” Celometan Bajing”
25. ” Pokok e Bajing pekok”
26. “Plesetan Bajing”
27. ” Bajing ngguyu ”
28. ” Bajing geger genjik udan kirik”
29 ” Ela elo sawo di pangan Bajing”
30. ” Ada uang Bajing di sayang”, dll.
Tema karikatur dan kartun di atas tentu saja bisa berkembang dan divariasi dalam rupa dan kata yang sarat makna. Walau membuat hati panas, kuping memerah dan rasa pahit, ini bukan kebencian, bukan kesalahan dan bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk belajar dari kesalahan.
Tentu saja bukan untuk menang menangan, merasa paling benar apalagi menghakimi. Semua ini niatan baik untuk berkaca dan merefleksikan diri untuk selalu waras, eling lan waspodo.
Walaupun jaman edan, maka sopo sing edan dan ngedan akan terkena kutukan karmanya, yang berjaya dan selamat, terhormat dan hidup menjadi berkat, bagi yang berani dimusuhi bajingan, selalu eling lan waspodo. Menjadi gembala domba yang tidak bersekongkol dengan serigala. (CDL)
