Material longsor dipicu cuaca ekstrem mengakibatkan 5 orang meninggal dan 4 hilang di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Kamis (27/11/2025). Transindonesia.co / BPBD Humbang Hasundutan
TRANSINDONESIA.co | Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Utara, Riandra Purba, membantah pernyataan Gubernur Sumatra Utara (Sumut) Bobby Nasution yang mengatakan banjir dan longsor di Sumatra Utara disebabkan oleh cuaca ekstrem.
“Perusakan hutan di sana itu disebabkan ya, dipicu ya, oleh beberapa perusahaan. Jadi kita menyangkal pernyataan Gubernur Sumatra Utara bahwa banjir tersebut karena cuaca ekstrem. Tapi pemicu utamanya bukan cuaca ekstrem ini. Pemicu utamanya adalah kerusakan hutan dan alih fungsi lahan dari hutan menjadi nonhutan. Dari sisi hukum, tahun 2014 itu ada perubahan kawasan hutan,” ungkapnya dalam diskusi yang digelar oleh Walhi, baru-baru ini.
Status nonhutan tersebut kemudian dimanfaatkan oleh para oknum. Dari sini, penggundulan hutan terjadi.
“Secara status hukum, itu nonhutan, sehingga orang seenaknya saja oknum baik secara legal maupun ilegal penebangan hutan dan alih fungsi lahan. Dan ini yang terjadi,” ujarnya.
Sebelumnya, Bobby Nasution mengatakan bahwa banjir dan longsor di Sumut dipicu cuaca ekstrem. Bencana ini melanda beberapa kota dan kabupaten di Sumut.
“Cuaca ekstrem dan hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung lama menyebabkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor di beberapa daerah Sumatera Utara, termasuk di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, hingga Tapanuli Selatan,” kata Bobby dalam unggahan di akun Instagram pribadinya.
Akibat banjir dan longsor ini, ribuan rumah warga rusak. Bencana ini juga memakan korban jiwa.
“Bencana hidrometeorologi ini telah menyebabkan ribuan rumah warga terendam, akses jalan terputus, bahkan menelan korban jiwa,” tandasnya.
Sumber: mediaindonesia.com
