Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat M.Q Iswara. Transindonesia.co /Ist
TRANSINDONESIA.co | Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat M.Q Iswara, dan Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Iwan Koswara, didampingi Analisis Kebijakan Ahli Muda pada Biro Kesra Setda Jabar, Imas Indrawati, menerima audiensi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) ihwal permohonan bantuan untuk pendidikan rakyat miskin Jawa Barat, khususnya miskin ekstrim.
M.Q Iswara menjelaskan, Unindra memang berlokasi di wilayah DKI Jakarta, tepatnya di perbatasan dengan Kota Depok. Namun mayoritas mahasiswa Unindra berasal dari wilayah Provinsi Jabar seperti Kabupaten dan Kota Bogor, Depok, Bekasi, Kabupaten Karawang, Purwakarta, hingga Kota Bandung.
Kondisi pembiayaan mahasiswa di Unindra termasuk yang paling rendah di Indonesia, hanya sekitar Rp200.000 per bulan. Meskipun begitu, banyak mahasiswa mengalami kesulitan ekonomi pasca pandemi sehingga tidak mampu membayar.
Permasalahannya Drop Out dan ijazah tertahan, tercatat sekitar 2.889 mahasiswa asal Jawa Barat yang ijazahnya ditahan, dan sekitar 2.924 orang terancam DO karena tidak mampu bayar kuliah.
“Permohonan solusi ke Pemdaprov Jabar, pihak Unindra berharap DPRD Jawa Barat dapat menyampaikan aspirasi ini ke Pemdaprov Jabar untuk bersama-sama mencari solusi pembiayaan,” jelas Iswara, di gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Selasa (15/7/2025).
Tujuannya agar mahasiswa asal Jawa Barat tetap bisa menyelesaikan studi dan ijazahnya bisa segera diberikan kepada yang sudah lulus. Pemdaprov Jabar memiliki Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius, dengan berbagai persyaratannya. Salah satunya mahasiswa harus berdomisili di Jabar dan memenuhi kriteria berprestasi serta tidak mampu secara ekonomi, Perguruan Tinggi sudah memiliki MoU resmi dengan Pemdaprov Jabar sebelumnya.
“Data mahasiswa yang diusulkan harus lengkap dan valid, termasuk by name, by address, dan fotokopi KTP,” ucap dia.
Mengingat Unindra belum memiliki MoU dengan Pemdaprov Jabar, maka disarankan untuk segera mengurusnya. Bila proses MoU terlalu memakan waktu, DPRD Jawa Barat menyarankan opsi Program Bapak Angkat bagi mahasiswa Jawa Barat yang kesulitan membayar.
Anggota DPRD dari Dapil terkait seperti Bogor, Depok, dan Bekasi dapat berperan aktif membantu sebagai bapak angkat, mengingat kebutuhan dana hanya sekitar Rp1,2 juta per semester per mahasiswa.
“DPRD telah menyampaikan aspirasi ini ke pihak eksekutif (Pemdaprov Jabar). Solusi jangka panjang sedang dikaji, baik melalui jalur reguler (beasiswa hibah) maupun pendekatan sosial melalui kemitraan dengan para anggota dewan,” ucap dia mengakhiri.
Sementara itu Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat Iwan Koswara mempertanyakan ihwal proses awal masuk kuliah seperti apa, sehingga banyak mahasiswa yang tidak bisa membayar uang kuliah hingga mengakibatkan ijazah ditahan oleh Unindra. Perekrutan mahasiswa harus jelas, khususnya bagi mahasiswa yang tidak mampu seperti apa.
“Kalau masalah ini dikembalikan ke kita (Pemdaprov Jabar bayar), kami sih tidak masalah kalau itu warga Jabar dan ada anggarannya,” tambah dia.
Sementara itu, Analisis Kebijakan Ahli Muda pada Biro Kesra Setda Jabar Imas Indrawati menambahkan, Pemerintah Daerah Provinsi Jabar sebelumnya mempunyai program Jabar Future Leader Scholarship (JFLS) yang pos anggarannya ada di Dinas Pendidikan Jabar. Namun demikian saat ini program tersebut berubah menjadi Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius.
“Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius ini yang diamanatkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kemudian Pemdaprov Jabar pun mempunyai inisitif yang besar untuk menghasilkan atau membangun, mencetak SDM unggul melalui Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius,” jelas Imas Indrawati.
Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius ini lanjut dia, ada di Biro Kesejahteraan Rakyat (Biro Kesra). Program ini diprioritaskan untuk mahasiswa miskin yang berprestasi dengan skema diberikan ke Perguruan Tinggi (PT) melalui hibah.
Untuk mekanisme agar PT bisa mendapatkan bantuan hibah dari Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius ini di antaranya; PT mengusulkan bantuan hibah kepada gubernur melalui Biro Kesra dengan mengajukan nama calon penerima beasiswa baik yang berprestasi atau yang tidak mampu.
Adapun spesifikasi dari jurusan yang akan mendapatkan beasiswa itu adalah sektor-sektor yang dibutuhkan untuk mengisi keahlian di Jabar. Salah satunya sektor ketahangan pangan hingga ekonomi hijau sesuai dengan visi misi Jabar Istimewa.
“Artinya ada jurusan yang akan lebih diprioritaskan untuk mendapatkan beasiswa dari Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius,” tegasnya.
Selain itu terdapat persyaratan PT yang akan mendapatkan bantuan hibah untuk Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius ini selain harus mengusulkan ke SIPD dan mencantumkan nama calon penerima beasiswa, juga IPK dan sebagainya. Sebelumnya PT pun harus sudah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemdaprov Jabar.
“Dari semua persyaratan, persyaratan yang paling mendasar adalah salah satunnya MoU ini,” ucapnya.
Pada tempat yang sama, Wakil Rektor Unindra Irwan Agus, menjelaskan maksud dan tujuannya audiensi ke DPRD Jawa Barat yaitu, untuk memberikan informasi kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jabar melalui DPRD Jawa Barat bahwa banyak warga Jawa Barat yang telah menjadi sarjana, tetapi ijazahnya ditahan karena tak mampu bayar kuliah. Selain itu banyak juga mahasiswa asal Jabar yang terancam Drop Out (DO) karena tidak mampu bayar kuliah.
Berdasarkan data, untuk mahasiswa yang sudah lulus tetapi ijazahnya ditahan capai 2.889 orang dengan nilai tunggakannya mencapai Rp4,8 miliar lebih. Sedangkan mahasiswa yang terancam di Drop Out (DO) capai 2.924 orang.
“Sekarang ada sekitar 1.500 orang yang kemungkinan di DO karena sudah tidak memungkinkan dipertahankan, kami sudah tidak bisa menanggung biaya itu pun dengan berat hati kami melakukan DO,” jelas Irwan Agus.
Mudah-mudahan solusi yang ditawarkan DPRD Jawa Barat yakni, kesempatan mendapatkan Program Beasiswa Perguruan Tinggi untuk Mahasiswa Jenius bisa terlaksana, termasuk dengan solusi jangka pendek yaitu Program Bapak Angkat.
“Banyak dari mahasiswa Unindra khususnya dari Jawa Barat mereka terbentur biaya, karena kebanyakan yang berkuliah ke Unindra adalah masyarakat bawah menengah yang pendapatannya tidak stabil,” katanya. [nal]
