Pimpinan Yayasan dan Ponpes Almarhamah Khairu Ummah, Ustadz H. Subchansyah, menyampaikan Liqo rutin pada Sabtu malam (21/6/2025). Transindonesia.co /Hasbi
TRANSINDONESIA.co | Nabi Muhammad SAW mengibaratkan kehidupan dunia seperti seorang musafir yang berhenti sejenak di bawah pohon untuk berteduh, lalu melanjutkan perjalanannya. Dan, Nabi SAW menunjukkan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan utama, dan kehidupan dunia harus diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagaimana Zuhud dalam Islam berarti meninggalkan kesenangan duniawi yang berlebihan dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.
Orang yang zuhud tidak berarti meninggalkan dunia secara total, tapi memiliki sikap hati yang tidak terpaku pada dunia, meskipun memiliki harta atau kedudukan.
Zuhud menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan bukan tujuan akhir.
Selaras dengan Zuhud, Qana’ah adalah orang mencukupi dan manfaatkan keberadaannya dengan tidak menambah nikmat kehidupannya yang tiada keterkaitan akhirat
Bagaimana ciri-ciri seorang Zuhud dan Qana’ah?
• Tidak Terpesona dengan Harta Dunia: Orang yang zuhud memandang harta sebagai amanah, bukan tujuan hidup. Mereka tidak terpesona oleh kemewahan dunia karena menyadari bahwa segala yang ada di dunia hanyalah sementara dan tidak dapat dibawa ke akhirat.
• Mengutamakan Kehidupan Akhirat: Seorang zuhud selalu mengutamakan akhirat dalam segala tindakan, karena dunia hanyalah sarana untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan akhirat yang kekal.
• Qana’ah (merasa cukup dengan apa yang dimiliki)*: Orang yang zuhud merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak mengejar kemewahan dunia atau iri dengan apa yang dimiliki orang lain.
• Tidak Berlebihan dalam Kesenangan Dunia: Zuhud mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan duniawi. Orang zuhud menjalani hidup dengan sederhana dan tidak berlebihan dalam kesenangan atau kenikmatan dunia.
Lalu bagaimana manfaat Zuhud?
• Mendekatkan Diri kepada Allah: Zuhud membantu seseorang lebih fokus dalam ibadah dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah.
• Menghindarkan dari Fitnah Dunia: Zuhud melindungi hati dari godaan dunia, sehingga seseorang tidak terperangkap dalam kesenangan dunia yang melalaikan.
• Pertebal Amal Ibadah: Orang yang zuhud akan mempertebal atau memperbanyak amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah.
• Tingkatkan Kepedulian Sosial: Zuhud mendorong seseorang untuk lebih peduli terhadap orang lain dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
Dalam Al-Qur’an dan hadits, zuhud dijelaskan sebagai sikap untuk meninggalkan kesenangan duniawi yang berlebihan dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu” (HR. Ibnu Majah).
Orientasi Kehidupan
Rasulullah SAW mengajarkan orientasi kehidupan ummat-nya untuk akhirat.
Karena di bandingkan dengan sedikit saja nikmat jannah atau surga maka tidak ada apa-apanya azab maupun kesusahan kehidupan di dunia.
Kehidupan di dunia menjadi nol dengan kehidupan di surga. Sebagaimana orientasi Nabi untuk menjalankan amal ibadah selama di dunia.
Bila bicara tentang orang yang kurang dan lebih dalam nikmat, Nabi Muhammad SAW mencontohkan, “Melihatlah ke bawah atau orang yang di bawah, jangan melihat di atas. Karena tidak akan ada rasa syukur pada diri dengan membandingkan kehidupan kita dengan orang yang di atas.”
Dengan demikian, maka kita bisa merasa bersyukur betapa masih ada orang di bawah dalam kehidupan kita. Seperti nasehat, kita melihat orang sakit. Betapa bersyukurnya kita yang diberi kesehatan.”
Karena itu, pentingnya orientasi bagi kita untuk menjaga keseimbangan kehidupan di dunia dengan tujuan akhirnya adalah hari akhirat
Berikut beberapa poin penting orientasi kehidupan ummat Islam:
• Kehidupan Dunia sebagai Sarana: Nabi SAW mengibaratkan kehidupan dunia seperti seorang musafir yang berhenti sejenak di bawah pohon untuk berteduh, lalu melanjutkan perjalanannya. Ini menunjukkan bahwa kehidupan dunia hanya sementara dan bukan tujuan akhir.
• Kehidupan Akhirat sebagai Tujuan: Allah SWT berfirman, “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia” (QS. Al-Qasas: 77). Ini menunjukkan bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan utama, dan kehidupan dunia harus diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Berbeda dengan di atas, kelompok manusia berdasarkan orientasi hidup yang menganggap hidup hanya di dunia. Mereka yang beranggapan bahwa kehidupan hanya di dunia dan harus dinikmati sepuas-puasnya.
Kelompok ini selaras dengan manusia yang memburu dunia dan meninggalkan akhirat. Mereka berorientasi mengejar dunia dengan mengorbankan agama dan amal saleh.
Meniti Keseimbangan
Kehidupan kita di dunia hakikatnya sebagai sarana untuk akhirat dengan memiliki orientasi hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Keseimbangan dimaknai untuk mengarahkan kehidupan dunia dengan capaian atau tujuan akhirat.
Inilah menunjukkan kehidupan dunia penting namun capaian untuk akhirat sangat penting.
Sebagaimana seorang mukmin harus memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah kepada Allah SWT. Segala aktivitas di dunia harus diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Peting bagi umat Islam bahwa kenikmatan hidup di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat.
Allah SWT berfirman, “Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit” (QS. At-Taubah: 38).
Risalah Liqo Sabtu Malam Ahad
Oleh: Ustadz H. Subachansyah, ST, MT. (Pimpinan Yayasan dan Ponpes Almarhamah Khairu Ummah)
