TRANSINDONESIA.co Kajian Rutin Pekanan “Fiqih Sirah Nabawiyah” karya Syekh Said Ramadan Al Buty oleh Ustadz Nurhakim Zaki Lc, di Mushola Al Farouq Perumahan Taman Juanda, Bekasi Timur. Ahad (1/6/2025).
Langit Subuh masih kelabu ketika deretan shaf jamaah di Mushola Al Farouq, Taman Juanda, mulai terisi. Sekitar 30 jamaah hadir mengikuti shalat berjamaah, kemudian larut dalam sebuah agenda ceramah pekanan. Ustadz Nurhakim Zaki, Lc., pagi itu menyampaikan tema: kisah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Thaif, sebuah episode penuh luka, namun sarat pelajaran.
Ceramah dibuka dengan latar peristiwa yang mengantarkan Nabi ke Thaif. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn, Tahun Kesedihan. Dua orang terdekat Nabi wafat: Khadijah, istri tercinta yang selalu mendukung dakwah dengan jiwa dan hartanya, dan Abu Thalib, paman yang selama ini menjadi pelindung fisik dan politik beliau dari kekejaman Quraisy.
“Tanpa pelindung, Rasulullah SAW menjadi sasaran empuk intimidasi,” ujar Ustadz Zaki. Maka Thaif, kota sejuk di kaki pegunungan sekitar 80 kilometer dari Makkah, menjadi harapan. Di sana, Nabi mengajak para pemuka Bani Tsaqif untuk menerima Islam.
Namun harapan itu sirna dengan cepat. Justru batu-batu yang dilemparkan, kotoran hewan yang dilemparkan. Nabi dihinakan dan luka yang menganga.
Ustadz Zaki menggambarkan momen paling memilukan itu dengan perlahan, seolah mengajak hadirin menyaksikan sendiri adegannya.
Para pemuka Thaif bukan hanya menolak. Mereka mengejek, mencaci, dan menyuruh para budak serta anak-anak melempari Rasulullah SAW dengan batu. Tubuh beliau berdarah, kaki beliau luka. Zaid bin Haritsah, sahabat setia yang mendampingi, berusaha melindungi dengan tubuhnya sendiri, namun juga terkena lemparan.
>”Bayangkan, manusia paling mulia, paling lembut akhlaknya, justru diperlakukan paling kejam,” tutur Ustadz Zaki. “Bukan karena ia bersalah, tapi karena ia membawa kebenaran.”
Nabi berlari dalam kondisi terluka, mencari perlindungan. Hingga akhirnya beliau berteduh di kebun milik dua orang Quraisy, ‘Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah.

Doa yang Menembus Langit
Di tengah keheningan kebun itu, Rasulullah SAW tak mengeluh. Beliau tidak memaki penduduk Thaif. Sebaliknya, beliau berdoa dengan penuh kelembutan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Ustadz Zaki pun membacakan doa itu, yang dikenal sebagai Doa Thaif, diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan dikutip dalam Sirah Ibn Hisham serta Al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibnu Katsir:
> “اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ…”
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu kelemahan kekuatanku, sedikitnya kemampuanku, dan kehinaanku di mata manusia…”
Lalu beliau menambahkan sebuah refleksi mendalam.
“Jika Allah memberikan ujian kepada kita, merendahlah di hadapan-Nya. Bersabar dan mengadukan (curhat) kepada Allah bukan berarti mengeluh, tapi itu adalah ibadah. Siapa yang merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan meninggikannya. Dan ingat, doa akan datang tepat pada waktunya.”
Kegagalan yang Berbuah Hikmah
Meski Thaif tampaknya menjadi kegagalan secara dakwah, Ustadz Zaki menegaskan bahwa dalam pandangan Allah, setiap usaha di jalan-Nya tidak pernah sia-sia. Dari peristiwa tragis itu, muncul dua cahaya hidayah yang besar:
1. Masuk Islamnya Addas, seorang budak Nasrani yang mengantar anggur kepada Nabi di kebun tempat beliau berteduh. Setelah mendengar nama Allah dan percakapan Nabi, ia langsung tersentuh dan menyatakan keimanannya.
2. Masuk Islamnya sekelompok jin, saat Nabi SAW pulang dari Thaif dan singgah di suatu tempat bernama Nakhlah. Di sanalah, beliau membaca Al-Qur’an dalam salat malam, dan didengar oleh para jin yang lewat. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Surah Al-Ahqaf (46:29–32) dan Surah Al-Jin (72:1).
“Katakanlah (wahai Muhammad): Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin mendengarkan (bacaan Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan…” (QS. Al-Jin: 1)
“Thaif menolak dengan batu, tapi langit mengirim hidayah kepada bumi,” ucap Ustadz Zaki.
“Inilah bukti bahwa kegagalan di mata manusia bisa jadi kemenangan di sisi Allah.”
Refleksi: Thaif dalam Hidup Kita
Ustadz Zaki mengajak jamaah melihat Thaif bukan sekadar tempat, tapi simbol ujian hidup: saat niat baik dibalas keburukan, saat perjuangan terasa sia-sia.
“Jangan pernah berhenti berharap kepada Allah. Dari luka di Thaif, lahir doa yang hingga kini masih hidup di hati umat,” tutup beliau.
Setiap batu yang dilemparkan manusia, bisa menjadi tangga doa yang menjulang ke langit. Dan bahwa kegagalan yang disikapi dengan sabar dan tawakal, akan berubah menjadi rahmat yang tersembunyi.
Pewart/Editor: Aris Yulianto
