Ilustrasi
TRANSINDONESIA.co | Tahukah kalian apa itu nasi umat ? Bagi para kader HMI angkatan 90-an yang pernah mengikuti latihan kader, nama itu pasti menggetarkan ingatan.
Bukan sekadar nasi dalam bungkus kertas minyak, melainkan simbol harapan yang diantarkan dalam setiap suapannya.
Nasi umat adalah sedekah tulus dari ibu-ibu pengajian, para emak-emak yang mungkin hidupnya pas-pasan, tapi rela menyisihkan uang belanja demi menyokong anak-anak muda yang sedang ditempa di 𝗸𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗰𝗮𝗻𝗱𝗿𝗮𝗱𝗶𝗺𝘂𝗸𝗮 latihan kader.
Lauknya sederhana: urap sayur, sambal terasi, dan ikan kresek—ikan asin tipis yang digoreng renyah dengan balutan tepung. Bukan hidangan mewah, tapi penuh makna.
Nasi itu bukan sekadar pengganjal perut, melainkan doa yang dibungkus dalam nasi.
Doa dari rakyat kecil yang berharap suatu hari nanti, anak-anak muda yang mereka beri makan akan tumbuh menjadi pemimpin yang memperjuangkan nasib mereka.
Kini, puluhan tahun setelah suapan terakhir nasi umat itu, nasib para kader pun beragam. Ada yang sudah duduk di kursi kekuasaan, menjadi pejabat penting di negeri ini. Ada yang sukses sebagai pengusaha kaya raya. Ada pula yang tetap setia di jalan aktivisme, bergerak di tengah denyut nadi rakyat.
Tapi, di antara gemerlap kesuksesan mereka, adakah yang masih ingat harapan ibu-ibu pengajian itu? Adakah yang masih merasakan getar doa dalam setiap butir nasi yang pernah mereka santap?
Kita mungkin sudah melupakan rasa ikan asin yang gurih, tapi seharusnya tidak boleh melupakan rasa hutang yang masih menganga.
Hutang bukan pada organisasi, melainkan pada rakyat yang dengan ikhlas memberi ketika kita masih menjadi anak-anak muda yang lapar—lapar ilmu, lapar perjuangan, dan lapar akan arti pengabdian.
Hari ini, ketika kita sudah mapan, apakah kita masih memikirkan nasib emak-emak penjual sayur di pasar? Apakah kebijakan kita sudah menyentuh kehidupan mereka yang dulu berbagi nasi dengan penuh harap? Atau justru kita sibuk mengurusi kepentingan sendiri, melupakan bahwa kesuksesan kita dibangun di atas doa dan pengorbanan orang-orang sederhana itu?
Ini bukan sekadar nostalgia. Ini teguran bagi kita semua, para alumni latihan kader HMI, 𝐛𝐚𝐡𝐰𝐚 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐮𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐛𝐚𝐰𝐚 𝐦𝐚𝐭𝐢 jika tidak segera dibayar.
Hutang untuk kembali pada jalan perjuangan, untuk memastikan bahwa setiap jabatan, setiap kekuasaan, dan setiap harta yang kita miliki benar-benar menjadi berkah bagi mereka yang dulu mempercayakan harapannya pada kita.
Maka, sebelum nafas ini berakhir, tanyakan pada diri sendiri: 𝐒𝐮𝐝𝐚𝐡𝐤𝐚𝐡 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐚𝐲𝐚𝐫 𝐡𝐮𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮? Atau justru kita termasuk yang melupakannya?
𝑺𝒆𝒔𝒖𝒏𝒈𝒈𝒖𝒉𝒏𝒚𝒂, 𝒂𝒎𝒂𝒏𝒂𝒉 𝒕𝒆𝒓𝒃𝒆𝒓𝒂𝒕 𝒃𝒖𝒌𝒂𝒏𝒍𝒂𝒉 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒎𝒊𝒔𝒌𝒊𝒏 𝒅𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒋𝒖𝒂𝒏𝒈, 𝒎𝒆𝒍𝒂𝒊𝒏𝒌𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒕𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒌𝒖𝒂𝒔𝒂—𝒂𝒑𝒂𝒌𝒂𝒉 𝒎𝒂𝒔𝒊𝒉 𝒊𝒏𝒈𝒂𝒕 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒍𝒆𝒎𝒂𝒉?
Bojong gede 28 Mei 2025.







