
TRANSINDONESIA.co | Oleh: Triyo Supriyatno (Guru Besar UIN Maliki Malang).
“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-‘Ādiyāt: 6)
Ayat ini, meski singkat, menyentak kesadaran kita tentang tabiat manusia yang terus mengulang pola ingkar terhadap nikmat ilahi. Dalam istilah Al-Qur’an, sikap ini disebut kunuud — yakni penyakit hati berupa kufur nikmat, mengabaikan karunia Allah, dan melupakan kebaikan yang telah diterima.
Sayangnya, penyakit ini tidak sekadar problem individual, melainkan juga persoalan sosial dan historis yang berulang dalam perjalanan umat manusia.
Tafsir Transformatif: Menyadarkan Makna Syukur dalam Kehidupan Sosial
Secara tafsir transformatif, kunuud bukan hanya soal sikap pribadi yang ingkar, tapi bentuk ketidakadilan sosial yang lahir dari ketimpangan nilai-nilai syukur dan solidaritas. Al-Qur’an mengingatkan, manusia cenderung lupa diri saat lapang dan baru mengingat Tuhan saat sempit.
Ketika nikmat melimpah, masyarakat kerap abai terhadap kelompok rentan: anak yatim, fakir miskin, dan hamba tertindas. Inilah pesan moral dalam Surat Al-Balad (QS. 90:11-16) tentang pentingnya ‘aqabah — pendakian moral sosial yang berat namun wajib ditapaki.
Transformasi spiritual harus diwujudkan dalam aksi nyata: membebaskan sesama dari kemiskinan, ketertindasan, dan ketidakadilan struktural. Tafsir tidak boleh berhenti di mimbar, tetapi menyentuh ruang-ruang publik dan kebijakan.
Perspektif Historis: Kunuud dalam Catatan Peradaban
Sejak peradaban Mesopotamia hingga kekhalifahan besar, penyakit kunuud terbukti menjadi faktor keruntuhan sosial. Bangsa yang lupa diri dalam kejayaan, lalai terhadap hak rakyat kecil, akhirnya rapuh dari dalam.
Sejarah mencatat kehancuran bangsa ‘Ād, Tsamūd, dan umat Nabi Musa bukan semata karena kekuatan musuh eksternal, tapi karena ketamakan elite dan ingkar terhadap nikmat keseimbangan sosial.
Islam datang bukan sekadar meruntuhkan berhala fisik, tapi juga membongkar mentalitas kunuud yang membuat manusia pongah atas kekuasaan dan lupa berbagi kebaikan.
Sosiologis: Kunuud di Tengah Modernitas
Dalam masyarakat modern, kunuud termanifestasi dalam bentuk konsumerisme, individualisme, dan kehilangan nilai solidaritas.
Ukuran kemuliaan bergeser dari amal kebajikan menjadi pencapaian material. Sosial media memperparah situasi, di mana manusia lebih sibuk memamerkan nikmat daripada mensyukurinya.
Kita melihat bagaimana krisis kemanusiaan di Gaza, Sudan, atau pengungsian Rohingya kerap sekadar jadi berita simpati tanpa aksi nyata. Inilah kunuud sosial yang mematikan empati kolektif.
Antropologis: Kunuud sebagai Fenomena Budaya
Dari sisi antropologi, kunuud bukan sekadar dosa personal, tapi budaya ingkar yang diturunkan antargenerasi.
Masyarakat yang dibesarkan dalam narasi keakuan tanpa kesadaran kolektif cenderung menormalisasi ketimpangan.
Dalam berbagai kebudayaan, mitos kekuasaan abadi dan glorifikasi harta selalu berujung pada dehumanisasi.
Al-Qur’an tidak sekadar mengkritik individu, tapi membongkar budaya masyarakat yang membiarkan nilai kunuud mengakar.
Futuristik: Ancaman Kunuud Umat Manusia
Di era kecerdasan buatan dan teknologi digital, kunuud hadir dalam wajah baru: keserakahan data, ketidakpedulian digital, dan degradasi nilai spiritual.
Manusia modern terancam menjadi makhluk algoritmis yang lupa makna syukur dan empati.
Jika kunuud tidak dicegah, umat manusia akan menghadapi disrupsi nilai yang jauh lebih berbahaya daripada perang fisik.
Kehilangan ruh spiritual dalam relasi sosial akan memicu krisis identitas global.
Syukur sebagai Vaksin Peradaban
Dalam pandangan Islam, syukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan menjaga keseimbangan relasi manusia, alam, dan Tuhan.
Penyakit kunuud hanya bisa disembuhkan dengan kesadaran kolektif untuk kembali pada nilai tauhid sosial: keadilan, solidaritas, dan kemanusiaan.
Sudah saatnya umat Islam menafsirkan Al-Qur’an secara transformatif, bukan sekadar ritualistik.
Setiap nikmat yang kita terima, wajib menjadi sebab hadirnya maslahat bagi sesama. Sebab, di hadapan Allah, bukan seberapa banyak yang kita punya, tapi seberapa banyak yang kita bisa bagi untuk semesta.**





