K.H.M. Bedjo Darmoleksono: Islam yang membebaskan dan memajukan umat tidak lahir dari kata-kata, namun dari tindakan. Foto: Dokumentasi. Istimewa
TRANSINDONESIA.co | Di antara riuh dinamika pergerakan Islam di Indonesia, nama Kiai Bedjo Darmoleksono mungkin tak sefamiliar tokoh-tokoh nasional. Tapi di Kota Malang, nama itu adalah simbol perjuangan yang tak kenal gentar.
Ia bukan hanya seorang kiai biasa, melainkan sosok penggerak umat, pelindung nilai, dan penjaga bara semangat Islam berkemajuan sebagaimana diajarkan oleh KH. Ahmad Dahlan.
Dari Kongres Hingga Ancaman Pembunuhan
Kiai Bedjo Darmoleksono—demikian panggilan lengkapnya—terlahir dengan nama Muhammad Bedjo pada Rajab 1327 H atau tahun 1908 M di Malang, Jawa Timur.
Perjalanan Kiai Bedjo dalam Muhammadiyah Malang dimulai sejak masa-masa awal pergerakan.
Namanya tercatat sebagai panitia pelaksana Kongres Muhammadiyah ke-27 tahun 1938 di Malang, sebuah hajatan besar yang menandai kemajuan organisasi Islam ini di wilayah Jawa Timur.
Namun, perjuangan sesungguhnya diuji ketika badai komunisme menerpa Indonesia. Pada 28 April 1954, PKI mengadakan rapat akbar di Alun-alun Malang.
Dalam pidatonya, DN. Aidit secara terang-terangan menghina Nabi Muhammad dan mencela partai Islam Masyumi.
Suasana pun meledak. Para pemuda Islam membalas dengan yel-yel, dan sejak saat itu nama-nama tokoh Muhammadiyah masuk daftar pembunuhan PKI.
Salah satunya adalah Kiai Bedjo Darmoleksono.
Alih-alih gentar, Kiai Bedjo justru tampil ke depan. Ia memperkuat gerakan pendidikan Aisyiyah sebagai benteng ideologis.
Di saat Gerwani, sayap perempuan PKI, meracuni anak-anak dengan propaganda anti-Tuhan lewat taman kanak-kanak, Aisyiyah di bawah binaannya menghadirkan TK ABA yang menanamkan tauhid, akhlak, dan cinta ilmu kepada generasi dini.
Pidato Inspiratif Kiai Bedjo: “Jangan Pernah Padam!”
Dalam sebuah kesempatan menyambut kader muda di TK ABA Kauman, Kiai Bedjo pernah berkata: “Jangan pernah padam! Kita bukan hanya menyalakan lilin di tengah gelap, kita membakar semangat agar umat bangkit. Islam yang mencerahkan harus tumbuh dari sekolah, dari musholla, dari rumah yatim, dari klinik, dari dapur kita sendiri. Jika mereka menghapus Tuhan dari mulut anak-anak kita, maka kita tanamkan Allah dalam hati mereka!”
Pidato ini bukan sekadar kalimat pembakar semangat. Ia adalah ruh perjuangan yang mewarnai seluruh amal usaha Muhammadiyah di Malang. Bersama istrinya dan para kader Aisyiyah seperti Bu Karinten, Bu Laila, hingga Bu Badriyah, mereka membentengi Kota Malang dari arus pemikiran gelap yang coba mengikis iman umat.
Jejak Warisan dan Kesetiaan pada Gagasan
Setelah era penuh gejolak itu, Kiai Bedjo melanjutkan kiprah sebagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah Malang. Di tangannya, organisasi ini tidak hanya bertahan tapi bertumbuh.
Rumah Yatim Piatu, klinik Muhammadiyah, dan sekolah-sekolah Islam modern adalah bukti konkret perjuangannya. Ia membumikan cita-cita KH. Ahmad Dahlan: Islam yang rasional, peduli, dan membangun.
Hingga hari ini, semangat Kiai Bedjo masih terasa.
Ia adalah benteng nilai di tengah badai ideologi. Ia adalah kisah tentang keberanian yang lahir dari cinta kepada umat dan ketulusan dalam pengabdian.
Dalam dunia yang semakin bising oleh retorika dan opini, kisah Kiai Bedjo adalah pengingat bahwa perubahan tidak datang dari panggung megah, tetapi dari pengabdian sunyi yang penuh makna.
Malang, dan Indonesia, berutang banyak pada sosok-sosok seperti beliau.
“Wahai umat Islam, kalau bukan kita yang menjaga Islam berkemajuan, siapa lagi? Kalau bukan hari ini kita menanam iman di dada generasi muda, kapan lagi?” – K.H.M. Bedjo Darmoleksono.
Di usia senja, Mbah Bedjo tak meminta penghargaan. Baginya, cukup Allah yang menilai. Tapi bagi kita, kisahnya adalah pelita—bahwa Islam yang membebaskan dan memajukan umat tidak lahir dari kata-kata, tapi dari tindakan.
Jika kita ingin melihat bagaimana Islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), maka teladan seperti Mbah Bedjo perlu diangkat dan didukung.
Bukan hanya karena ia tokoh Muhammadiyah, tetapi karena ia mewakili wajah Islam yang sejati: membela yang lemah, mendidik yang tertinggal, dan memudahkan kehidupan umat manusia.
Hingga akhirnya, ia wafat pada 6 Oktober 1986 dalam usia sekitar 78 tahun.
Kiai Bedjo telah meninggalkan karya nyata dan keteladanan yang selalu terekam dalam ingatan sejarah persyarikatan Muhammadiyah.
Kini, nama Kiai Bedjo diabadikan sebagai nama masjid “KHM.
Bedjo Darmoleksono” yang berlokasi di dalam kompleks RSU Universitas Muhammadiyah Malang.
Sebagai tokoh, Kiai Bedjo memiliki kaitan sejarah yang sangat erat dengan Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah Malang.*







