Indonesia Berdakwah

SMK Telkom Jakarta, Sekolah Peradaban Vocational School 5.0

Kepala Sekolah SMK Telkom Jakarta, Dr. Daduk Merdika Mansur, ST. MM. [Transindonesia.co /Istimewa]

TRANSINDONESIA.CO – Era kompetisi yang semakin kuat sangat bergantung dari daya saing sebuah bangsa. Tingkat produktivitas sebuah negeri menunjukan indicator kemampuan daya saingnya. Berdasarkan laporan peringkat daya saing dari beberapa lembaga dunia terkemuka, seperti Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang baru dirilis World Economic Forum (WEF) menunjukkan peringkat daya saing Indonesia pada tahun 2019 turun ke posisi 50 dari posisi 45 pada tahun sebelumnya.

Kondisi ini disebabkan secara dominan adalah kurangnya kesungguhan dalam melakukan peningkatan produktivitas dan daya saing nasional. “Sementara itu, pada lingkup ASEAN daya saing Indonesia hanya menempati peringkat empat masih di belakang Singapura, Malaysia, dan Thailand. Berdasarkan Asian Productivity Organization (APO) tahun 2019 produktivitas jam kerja Indonesia hanya 12,9 dolar AS  menempati peringkat 11 dari 20 negara yang tergabung dalam APO, sementara Singapore produktivitas jam kerjanya sebesar 63,2 dolar AS, Malaysia 16,3 dolar AS, Thailand  14,5 dolar AS,” kata Ketua Umum Asosiasi Profesi Produktivitas Indonesia (APRODI), Ir. Sanggam Purba, MM, saat deklarasi APRODI di Jakarta, Kamis (21/1/2021).

Sementara itu, daya saing tenaga kerja Indonesia melemah di tahun 2019. Berdasarkan release GCI 4.0 di tahun 2019, daya saing pilar pasar tenaga kerja Indonesia menempati peringkat 85 dari 141 negara. Posisi Indonesia pada pilar ini menurun tiga peringkat dari tahun sebelumnya. Pilar tersebut merupakan pilar dengan capaian peringkat kedua terendah setelah pilar kesehatan.

“Kondisi ini mencerminkan belum optimalnya kontribusi pasar tenaga kerja bagi daya saing Indonesia. Selaras dengan pilar pasar tenaga kerja, pilar kemampuan sumber daya manusia (SDM) Indonesia juga mengalami penurunan tiga peringkat, dari peringkat 62 menjadi 65,” ujar Sanggam.

Mensikapi kondisi ini, SMK Telkom Jakarta sebagai sebuah lembaga pendidikan vokasi secara marathon mencari terobosan system dan metodologi pembelajaran. Merujuk kepada teory Darwin yang menyatakan bahwa yang mampu bersaing dimasa yang akan datang adalah yang mampu beradaptasi, maka sejak tahun 2021 ini SMK Telkom Jakarta memperkuat budaya sekolah yang tadinya berkonsep Religius & Disiplin (REDI) maka dibutuhkan penguatan dan kemampuan adaptasi seiring pembelajaran online yang menjadi praktek KBM saat era pandemic Covid-19.

Dr. Daduk Merdika Mansur, ST. MM. selaku kepala sekolah baru segera memperkuat dan memperluas konsep pendidikan di SMK Telkom Jakarta. Jika siswa sudah religious dan disiplin, maka harus diperluas dengan kemampuan adaptasi dengan munculnya industry 4.0 dan menyasar startgic goalnya yaitu produktivitas yang tinggi. “Sehingga SMK Telkom Jakarta saat ini memiliki filosofi proses pendidikan sebagai Sekolah Peradaban Vocational School 5.0 dengan metode Agile untuk mencapai produktivitas,” kata Daduk Merdika.

Dikatakannya, konsep pembelajaran Agile akan mengarahkan guru untuk bisa fleksibel dengan kondisi kekinian serta menyesuaikan dengan talents dan passion pelajar. Dengan menerapkan metode project base, Problem Base, Resource Base dan inquiry base education maka memerlukan agilitas agar sesuai dengan kondisi kekinian di industry.

Ketepatan dalam mengembangkan keilmuan dan kompetensi maka akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. “Tidak hanya produktivitas hasil, namun produktivitas human capital Development yaitu pengembangan siswa-siswi disesuaikan dengan talents dan passionya benar-benar secara komprehensife dan signifikan tergarap secara maksimal,” ujar Daduk Merdika.

Dengan konsep ini juga lanjut mantan Kepala SMK Telkom Bandung tersebut, guru-guru dan tendik di SMK Telkom Jakarta semakin bergairah dikarenakan masing-masing individu secara maksimal mengexplorasi dan mendevelopt potensinya untuk mencapai produntivitas tinggi. Hal ini benar-benar selaran dengan program “Merdeka Belajar”  yang dicanangkan kementrian pendidikan nasional bahwa kemerdekaan belajar, mengembangkan keilmuwan dan keahlian harus secara real dilaksanakan untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi.

Sehingga persiangan disrupt yang sangat ketat ini akan mampu dihadapi dengan baik. Terlebih adanya bonus demografi akan bisa diberdayakan secara maksimal karena talh dicetak generasi yang memiliki kompetensi yang memadai dengan produkyivitas tinggi. “Walaupun persaingan saat ini penuh ketidak pastian, kompleksitas yang tinggi serta sangat gampang terjadi perubahan, ketika Human Capitalnya produktiv maka bangsa ini akan bisa mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” pungkas Daduk Merdika.[rls]

Share

TRANS POPULER

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.