Ipe Maaruf Sang Maestro Sketsa Indonesia

“Garisnya hidup, tarikannya lentur seakan seperti tarikan nafasnya yang panjang”

TRANSINDONESIA.CO – Siapa tidak mengakui Ipe Maaruf sebagai maestro sketsa Indonesia. Karyanya diakui dan mendapat pujian di mana mana namun tatkala melihat hidup dan kehidupannya seakan njomplang antara gelar maestro dan pahitnya kehidupan yang dijalani. Ipe Maaruf bekerja dengan hati dan dengan kesukaannya. Dia memang tidak mengharapkan sesuatu apalagi berharap jelas sama sekali tidak. Ipe merasa menikmati dan bahagia dengan hidup yang ia jalani.

Seniman hidup kehidupannya kadang tragis baru pasca kematiannya barulah diangkat atau diberi gelar setinggi langit seakan hujan puja puji di sana sini. Apa yang telah ditorehkan Ipe Maaruf dalam perjalanan hidupnya mengangkat sketsa menjadi sesuatu karya yang luar biasa bagi dunia seni rupa.

Apakah takdir atau ketidak pedulian kita semua akan peradaban tatkala melihat banyak seniman mengalami  nasib tragis semasa hidupnya. Apakah memang seni dan kebudayaan akan terus dibiarkan di jajah kaum beruang atau yang kaum ikut ikutan dan hidup seniman yang mulia bertekuk lutut kepada pasar? Apakah gunanya tatkala penghargaan diberikan saat tinggal nama? Tentu saja tidak. Banyak yang berharap seniman dapat menikmati hidup dan  kehidupan layak semasa hidupnya.

Contoh saja Vincent Van Gogh, semasa hidupnya hanya satu lukisan yang laku. Sepanjang hidupnya ditopang Theo Van Gogh adiknya. Kita semua semestinya berjuang keras mengangkat harkat dan martabat seniman seniman apalagi para maestronya agar tidak tragis hidupnya.

Kebesaran namanya semestinya ada keseimbangan dengan kelayakan hidupnya. Standar layak memang abstrak bahkan hampir tidak ada standarnya. Apa yang dialami banyak seniman sulit bagi bertahan hidup, apalagi tumbuh berkembang. Memang ada yang mampu hidup dan berjaya menjadi seniman. Orang tua akan bertanya tanya kalau jadi seniman terus kerjanya apa? Seniman bekerja dengan mengatakan atau menyentuh sesuatu jadi emas. Memang seniman bukan Raja Midas namun ide kreasi dan karyanya menjadikan dunia ini ada beradab hingga mampu bertahan tumbuh dan berkembang. Memang ada yang bilang seniman itu juga harus jago bisnis. Ada benarnya namun tidak harus semua bisa.

Peran Pemerintah atau yang punya kuasa dan mengendalikan sumberdaya lah yang harus peka dan peduli akan seni dan senimannya. Tatkala seniman tanpa perlindungan maka ia lagi lagi akan terbelenggu atau terjajah makelar hidupnya. Pasar dan kolekdol seakan mampu membangun seni dan peradaban bangsa.

Ipe Maaruf sang maestro sketsa Indonesia hidup dan kehidupannya tak sebanding dengan nama besarnya. Entah apa yang salah namun sepertinya ada sesuatu yang perlu dibenahi secara politik ekonomi maupun sosial. Kelayakan hidup bagi seniman memang relatif namun setidaknya solidaritas atau secara politis ada pembelaan atau keberpihakan pada kaum maestro yang mendapat pengakuan namun juga terlupakan bahkan bisa saja dilupakan. Membahas uang memang tidak elok, tetapi membuat elok memerlukan uang. Kalimat itu bisa saja di bolak balik sedemikian rupa namun hakekatnya tatkala politik sakit maka seniman bahkan maestronya sekarat. Bukan pada sebatas membeli atau nglarisi tetapi memberi ruang gerak dan apresiasi yang wujudnya bisa bervariasi dan bisa dilakukan secara masif di semua lini. Seni bisa menjadi bagian dari industri agar seni menyebar dan memotivasi dan senimannya memperoleh apresiasi dari royaltinya.

Garis Sketsa Ipe Maaruf

Garis dalam sketsa Ipe Maaruf seolah tarikan nafas panjang sekali tarik dalam membentuk apa yang digambarkannya. Garisnya lentur hidup memiliki kekuatan yang menunjukkan karakternya. Ipe akan terus menarik garis sampai dirinya merasa cukup dan menganggap selesai. Apa yang dilakukannya tak sebatas menarik garis namun seolah juga menangkap rasa dan jiwa atas apa yang di gambarnya. Ipe memiliki kekuatan pada garis garis sketsanya. Ipe sebagai maestro. Karyanya diakui di mana mana. Dikoleksi di berbagai lapisan masyarakat. Dari konglomerat sampai anak anakpun bisa mengenal dan memahami karya ipe.

Garis garis sketsanya merefleksikan jiwanya dan roh dari apa yang dibuatnya. Tangannya dengan lincah terus bergerak ke kanan ke kiri ke atas ke bawah, sesekali memandang apa yang sedang dibuatnya. Matanya yang tajam menangkap titik titik penting untuk ditorehkan. Sketsanya beragam kadang ia warnai dengan warna warni bagai pelangi. Yang menunjukkan keceriaan dan keriangan jiwanya. Garis garis Ipe menunjukkan perjalanan, ia suka berjalan ke mana saja. Apa saja yang ditemuinya dan yang dianggap menyentuh hatinya akan di gambarnya. Garis lurus lengkung membuat suatu ceritera atau ada alur peristiwa.

Memahami karyanya seperti diajak dialog dan menelusuri lorong lorong ruang dan waktu yang ada di gambarnya. Ipe sendiri kadang tidak menyadari atas apa yang dibuatnya ia biarkan semua mengalir apa adanya. Ia tidak berupaya merekayasa dan jujur ia lakukan di dalam berkarya. Bukan materi yang dikejarnya namun bagaimana ia terus mengisi lorong hidup dan waktunya dengan karya karyanya. Tak heran melihat ipe bahagia walau di usia senja dan hidup dalam kesederhanaan. Itulah jiwanya yang perkasa sebagai maestro yang terus meniti dan menjalani hidup berkeseniannya melalui garis garis di sketsanya.

Sepenuh Hati

Ipe Maaruf sang maestro sketsa di usia yang sudah hampir 82 tahun masih terus berjalan dan membuat sketsa apa saja yang membuat hatinya suka. Gunung, pohon, pasar, sosok, pohon hingga pemandangan alam dan sesuatu yang abstrak pun dibuatnya. Dengan bahan bahan yang sederhana Ipe berusaha menampilkan gaya dan karakternya sebagai seorang sketser. Garisnya hidup tarikannya lentur seakan seperti tarikan nafasnya yang panjang. Kekuatan garisnya menyiratkan kekuatan fisik dan spirit jiwanya yang berbahagia. Ipe tidak mempedulikan apa kata orang dan kepada siapa orang yang diajak berkomunikasi. Tatkala hatinya suka ia akan menemukan suatu resonansi jiwa. Ngeklik mungkin istilah nyambung dan bisa berkomunikasi satu sama lain. Ipe berkarya dalam bentuk ilustrasi. Dari majalah buku buku cerita semua dikaitkan dengan kesukaan dan dengan hatinya. Ipe menceriterakan kalau tidak cocok bisa saja ia enggan melanjutkan komunikasinya. Pada suatu acara ia diminta membuat sketsa seorang artis terkenal. Nampaknya artis itu sibuk dengan penggemarnya. Ipe mencoret sketsanya dan meninggalkannya pergi. Ipe menceriterakan bahwa membuat sketsa bukan sekedar menggambar tetapi ada suatu dialog antara si pelukis dengan yang dilukis.

Tatkala tidak ada komunikasi yang baik maka tidak akan ada karya yang baik menurutnya. Ipe tidak membedakan pangkat derajat golongan ia sebagai maestro mau mendatangi anak anak muda seniman jalanan dan memberikan spirit berkarya.

“Hasilkan karya yang bagus kerjakan dengan hati dan sepenuh hati” katanya kepada para seniman muda di pasar baru.

Ipe tetap konsisten dari tahun ke tahun hingga di usianya yang telah senja. Karyanya tersebar di mana mana di semua lapisan ada.

Ipe sangat bersahaja dengan gaya hidupnya yang sederhana, berjalan kaki menjadi bagian dari pengembaraan berkeseniannya. Ia membuat sketsa apa saja yang menyentuh hatinya. Ia bisa saja berimajinasi atau on the spot. Ipe tidak hanya menggambarkan apa yang dilihatnya tetap juga apa yang dirasakannya. Ia tidak pernah sekolah formal di bidang seni.

Karyanya banyak dikoleksi para kolektor hingga warga masyarakat biasa. Ipe membuat sketsa ttg hidup dan kehidupan apa yg membuatnya senang maka karyanya pun akan baik demikian sebaliknya. Ipe mengatakan kalau dirinya tidak bisa dipaksa atau  memaksakan  dirinya untuk melukis. Ipe akan melakukan tatkala ada getar hati atau ada dialog antara indera dengan jiwanya. Kekuatan sketsa ipe yang luar biasa perlu diberi ruang dan apresiasi yang setinggi tingginya. Apa yang telah dirintis dan ditorehkan merupakan sejarah panjang akan hidup dan pengalam hidup sepanjang perjalanan.

Ipe maaruf suaranya memang sudah lirih namun spirit jiwa senimannya terus berkobar. Tak heran kalau ia masih enerjik dan ingatannya pun masih tajam. Tak semua karyanya dibubuhi tanda tangan. Ia terus melakukan studi karena menurutnya seni itu hidup dan terus digali didalami untuk dapat menemukan yang hakiki. Ipe maaruf telah menghasilkan ribuan karya yang dia sendiri lupa ada di mana saja.

Tatkala pameran lukisan karyanya di hotel crown ia sendiri terheran heran bertanya kepada pelukis Suwito; “wit ini yang membawa lukisan lukisan saya ini siapa ya”. Suwito menjawab dengan enteng sambil berseloroh; “mbuh …”.

Suwito sudah dianggap anaknya dan Suwito pun menganggap Ipe sebagai guru dan orang tuanya. Seringkali ipe tiba tiba muncul di sanggar nya di pasar baru tetapi juga tiba tiba menghilang. Ruang apresiasi bagi Ipe memang pernah digalakkan dalam sketsa kamisan di galeri nasional namun entah bagaimana sekarang. Sang maestro memang tidak meminta dipuji atau dihargai namun kita sebagai anak bangsa sepatutnya memberi ruang dan apresiasi bagi maestro maestro nya.**

[Chryshnanda Dwilaksana – Pemerhati Seni]

Share