Merah Putih
TRANSINDONESIA.CO – Kritik itu membangun, Mencela itu iri, Iri tanda tak mampu, Apapun kebaikan yang diberikan kesalahan yang diberikan……
Melakukan protes kritik demo hingga menggeruduk dengan massa boleh dikatakan sebagai sikap atau bagian kebebasan dalam berdemokrasi. Namun, tatkala diwarnai dan dilandasi kebencian maka segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan. Tiada kebaikan celaan hinaan terus dilakukan.
Nalar atau logikapun ditumpulkan dibuai dengan tiupan-tiupan, angin surge, janji-janji apa saja yang penting senang yang penting menang atau yang penting jatuh dan segera ganti orang. Siapapun yang menggantikannya akan juga diperlakukan pada hal yang sama. Analoginya … memuji sekaligus mencela …cantik ….tetapi…..

Ketidak puasan, tiadanya rasa syukur ini yang terus dihembuskan. Hidup hanyalah mencela, mencari kesalahan dan menjatuhkan. Kemampuan, kekayaan sumber daya, hanya untuk memenuhi budak nafsu dan tiada lagi hati atau rasa syukur. Senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang.
Kekuasaan jabatan kewenangan dipujanya. Alat sarana dijadikan tujuan tidak lagi peduli kemanusiaan. Ke mana saja, apa saja, dimana saja, dan siapa saja, disalahkan dicari kesalahan dan terus dijatuhkan.
Primordial dijadikan alat untuk menumpulkan nalar dan membutakan hati. Kekerasan anarkisme pun bagai pameran ketololan yang terus dibanggakan dan di agung-agungkan. Rasa cinta akan kebangsaan dan cinta tanah airpun hilang entah kemana.
Pembenaran demi pembenaran dengan berbagai dalih mengatasnamakan untuk menghapus kebenaran dan kebaikan.
Kaum-kaum ini adalah kaum lali, yang tidak eling. Eling bukan sekwadae ingat namun sadar untuk berbuat kebaikan, kebenaran, dan demi semakin manusiawinya manusia. Perjuangannya adalah kemanusiaan dan semakin meningkatnya kualitas hidup.
Pamrih menjadi sesuatu yang tabu. Para bapak bangsa menyadari sejak merancang bangsa ini dan menjaganya dengan amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kalimat itu dilupakan bahkan enggan untuk diungkapkan. Dianggap sesuatu yang mengerikan. Sadarkah bila bangsa ini dijajah, berantem antar saudara sebangsa karena kebodohan. Dieksploitasi karena kedunguan.
Bangsa ini sudah dibangun, jatuh bangun, ada kerajaan-kerajaan yang bubar karena korup dan keserakahan untuk berkuasa. Saling membunuh, saling serang bahkan membiarkan orang asing mengadu domba berabad-abad lamanya.
Akankah jaman berulang dengan pergantian masa dan sekaligus orangnya yang diazab? Setiap masa ada orangnya, dan setiap orang ada masanya.
Kita kihat negara-negara besar yang pernah ada di bangsa ini, Sriwijaya, Majapahit dan Hindia Belanda, apakah Republik ini akan mengalami demikian? Cela mencela terus saling menjatuhkan? ….. ibarat memuji menunjukkan sesuatu cantik ….namun ada tetapinya…. lagi-lagi hilanglah rasa syukur terus tiada kepuasan cela-mencela tiada habisnya….[CDL]







