Hoegeng
TRANSINDONESIA.CO – Para pecinta atau pengagum kelompok-kelompok artis atau sesuatu sering ditambahi dengan embel-embel mania. Pecinta sepeda ada yang menyebut gowes mania dan juga onthel mania. Pecinta kicauan burung menyebut kicau mania.
Pecinta bisa disebut mania, sebagai ungkapan sekaligus wadah orang yang sejenis atau sama interestnya.
Tatkala membahas anti korupsi tentu para follower akan mencari ikon yang bisa dijadikan ikon perjuangan dan simbol pejabat yang anti korupsi. Di Kepolisian, Pak Hoegeng sering disebut sebagai pejabat yang tidak dapat disuap. Bahkan Gusdur pun secara berkelakar menyebut Pak Hoegeng salah satu petugas polisi yang anti korupsi.
Di era sekarang ini, banyak yang sadar dan berupaya memperbaiki birokrasi bahkan anti korupsi. Tidak mudah untuk memilih anti korupsi. Bisa saja dikatakan munafik, sok bersih, tidak ngaca, atau bahkan mungkin dilabel pemghianat. Membahas anti korupsi tentu bukan atas perintah atau karena ada surat perintah.

Aneh memang, apabila untuk melakukan anti korupsi harus diperintah atau dipaksakan. Bagi yang berani membahas atau menulis siap dimusuhi, dilabel celometan dan mungkin bisa saja ada usulan untuk dibedil.
Saya meyakini, kalau banyak orang yang anti korupsi namun pilihan itu tidak populer. Dengan membangun komunitas mungkin akan lebih memudahkan sharing atau saling menguatkan. Orang yang dapat dijadikan untuk ikon anti korupsi salah satunya adalah Pak Hoègeng. Para pengagum Pak Hoegeng dapat follower Pak Hoegeng
Ikon Pak Hoegeng mulai dikemas dalam berbagai produk untk memperkenaln bahaya dan dampaknya KKN. Selain itu juga dapat dibuat kajian tentang Hoegeng dari pemikiran perkataan dan perbuatanya yang anti korupsi.
Para follower pengagum Pak Hoegeng dapat disatukan dalam “Hoegeng Mania”, atau mungkin menjadi wadah dalam bentuk asosiasi atau forum yang dapat menjembatani untuk berbagi ide pemikiran sampai berbagai aktivitas anti KKN.[CDL]
