Wartawan Transindonesia.co saat wawancara Ahmad Ruhiyat, Ketua Rombongan Majelis Taklim Jatijajar Depok, Jawa Barat.[MIC]
TRANSINDONESIA.CO – Ketika memulai perjalanan menuju Masjid Istiqlal lewat Stasiun Depok Baru, Transindonesia.co bertemu dengan sekelompok orang berpakaian ala Jawara. Rombongan yang berjumlah 200 orang itu ternyata dari Lumbuk (Lembaga Usaha Melestarikan Seni dan Budaya) Depok dengan korlap, Wakil Ketua Norman Hasra.
Organisasi yang dibentuk untuk menjaga kelestarian budaya Betawi Depok turun bersama unsur FPI, MUI, Muhammadiyah dan beberapa elemen organisasi Islam lainnya di Kota Depok. Menumpang Commuter Line yang di pagi itu sangat penuh sesak namun mereka tetap tertib sembari sesekali meneriakkan takbir dan melantunkan zikir dan sholawat badar di dalam kereta.
Ketika ditanya apa kesan mereka menghadapi Aksi Damai 4 Nopember “411” ini, Norman Hasra pun berkomentar, “Ini aksi damai, kami semua akan menjaga agar tidak chaos. Aksi hari ini kan untuk memberikan kontribusi hukum yang jelas sekaligus membangkitkan ghirah kita pada agama dan negara”.
![Wartawan Transindonesia.co saat wawancara Ahmad Ruhiyat, Ketua Rombongan Majelis Taklim Jatijajar Depok, Jawa Barat.[MIC]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/11/Wawancara.jpg)
Ada yang bertayamun, namun ada juga yang berwudhlu lewat botol air mineral dimana mereka saling menyirami satu sama lain, yang tidak membawa alas shalat mereka pun saling berbagi selembar kertas koran sebagai alas dan suasana syahdu pun tergambar saat sholat jumat. Betapa Ghirah telah menyatukan mereka semua, FPI, FBR, Forkabi dan beragam elemen Islam lainnya semua berbaur padu dalam kedahsyatan Syiar Islam yang membahana.
Seorang kakek, Nasrudin asal Jatiwaringin ketika di temui di depan pintu keluar Masjid Istiqlal menuturkan,”Saya datang sendiri, dan senang liat Umat Islam bersatu”. Juga penuturan Ahmad Ruhiyat, seorang pimpinan Majelis Taklim binaan Ustad Mahfudz asal Jatijajar Depok memberikan kesannya,”Kami hadir di sini tidak atas nama SARA, kalau lihat wajah saya seperti Arab padahal ibu saya masih keturunan Cina. Ini lebih pada persoalan penistaan Agama, dimana tempat penista agama memeroleh hukuman yang setimpal. Di Bali, penista agama Hindu pun dihukum juga. Karena penistaan agama menodai sila pertama Pancasila dan merusak sila ketiganya, Persatuan Indonesia”.
![Meski ribuan ummat muslim berdemo tapi Kali tetap terjaga kebersihaannya.[MIC]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/11/Kali-Kota.jpg)
Jadi, Aksi Damai 4 Nopember kemarin seakan bercerita bagaimana Ghirahnya Umat Islam bangkit, meski tidak bisa 100% meninggalkan ekses negatifnya. Namun budaya disiplin dan tertibnya Umat Islam seakan dibangun kemarin.
![Taman Kota yang tetap terjaga.[MIC]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/11/Taman-Kota.jpg)
Belum lagi, laksar FPI terlihat mengarahkan dan memberikan pemberitahuan agar tidak menginjak taman di seputaran Masjid Istiqlal. Meski tidak tertutup kemungkinan ada satu dua yang berprilaku tidak tertib di sana sini namun secara umum, peserta aksi damai itu berprilaku sesuai yang diharapkan.
![Santri aksi bersih disaat ribuan ummat muslim berdemo.[MIC]](https://transindonesia.co/wp-content/uploads/2016/11/Aksi-Bersih.jpg)
Anak didik Ustad Mansyur dan AA Gym pun turut ambil bagian, terlihat santri Darul Qur’an memunguti sampah-sampah yang berserakan di seputaran Masjid Istiqlal. Sementara pasukan Darut Tauhid pun terlihat dengan gundukan sampah yang telah terkumpul rapih.[Mirza Ichwanuddin]




