TRANSINDONESIA.CO – Gerakan rakyat Marhaen dan gerakan Hasyim Muzadi dan berbagai rakyat yang menunggu keputusan Megawati di detik detik akhir pendaftaran calon Gubernur DKI.
Sebenarnya dapat ditafsirkan merupakan sebuah keraguan atas Soekarnoisme pada sosok Megawati. Atau sebaliknya Soekarnoisme itu sendiri adalah manifestasi langkah Megawati terhadap apapun. Setidaknya itu yang akan diingat rakyat dalam babak sejarah dinasti Soekarno ke depan.
Dalam pengertian Soekarnoisme yang dipersepsikan sebagai perjuangan rakyat Marhaen terhadap kapitalis; atau perjoangan kaum nasionalisme terhadap asing; atau perjuangan Soekarnois terhadap Soehartois dan Orba; atau perjuangan kaum mustadzafin terhadap penindas, maka gerakan Hasyim Muzadi dan kaum Marhaen yang menuntut Megawati mencalonkan kadernya sendiri adalah keharusan.

Mendukung Ahok bagi mereka adalah jalan sesat. Sebuah pengingkaran atas Soekarnoisme dan Marhaen. Sebab Ahok adalah simbol orde baru, karena didukung kaum Soehartois dan Orba dalam karirnya; simbol perkawinan kekuasaan dengan kaum pemilik modal; serta simbol penindasan terhadap kaum miskin kota, wong cilik.
Apakah Megawati ada di jalan ini? Pertanyaan ini menjadi penting mengingat Megawati akan melakukan regenerasi dalam waktu dekat, setidaknya dilihat dari sisi usianya. Dan, banyaknya penampakan “cium tangan” elit politik yang sudah menurun kepada Pewarisnya, Puan Maharani.
Keraguan atas Megawati pada garis Soekarno memiliki rekam jejak yang turun naik. Sepanjang tahun 1968 sampai 1986, ketika berlangsung perjuangan rakyat Marhaen dan para aktifis anti orde baru, Megawati tidak bersama rakyat.
Makanya, spekulasi diawal kemunculannya, banyak pihak meragukan Mega sebagai “anak ideologis” bung Karno, termasuk penilaian dari adiknya sendiri, Rachmawati Soekarnoputri.
Lalu apa yang terjadi jika Megawati akan mendukung Ahok? Seorang proxy pemilik modal?
Megawati akan menggambarkan bahwa Soekarnoisme dalam persepsi lain tadi. Sebab, Soekarnoisme itu sudah identik dengan Megawati.
Dalam persepsi yang keliru ini, bagi pendukungnya, kaum Marhaen, Soekarno tetap revolusioner.
Namun, bagi bukan kaum Marhaen, catatan Tan Malaka dalam istilah “Grande-eloquence dan Grande-elegance”, bahwa Soekarno sebenarnya seorang kompromistik akan mendapatkan tempat lebih dalam pada sejarah.
Sejatinya, berbagai catatan langkah politik Megawati sebenarnya menunjukkan Megawati semakin ideologis.
Hal itu antara lain ditunjukkan dengan beberapa kadernya, seperti Risma dan Ganjar yang menjadi tokoh kaum Marhaen; keteguhunannya mendorong ideologi Soekarnoisme dan Trisakti jsebagai acuan partainya, serta mendesak pemerintah saat ini mengacu pada Trisakti: keinginannya agar sumber daya alam dan kekuasaan atas aset bangsa dikelola bangsa sendiri; dan sikapnya yang tidak mau diatur pemilik modal.
Akhirnya, rakyat menunggu keputusan dan sikap Megawati dalam beberapa hari ini. Memilih atau tidak memilih Ahok merupakan sejarah besar bagi masa depan Soekarnoisme nantinya. [Dr Syahganda Nainggolan – Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle]