Ilustrasi kapal karam
TRANSINDONESIA.CO – Birokrasi bagai biduk besar atau bahtera, arah dan tujuan ditentukaan sang pemimpin sebagai nahkodanya.
Tatkala sang nahkoda sendiri mengalami suatu kebingungan bisa jadi bahtera yang dikendalikanya tersesat, salah arah bahkan hilang dari jalur-jalur pelayaran. Nahkoda sang penjuru tidak lagi hanya sebagai pengendali melainkan pembawa arah kemana akan dituju.
Nahkoda sebagai sang pemimpin memiliki fungsi penting, yaitu memimpin pelayaran untuk sampai tujuan. Nahkoda sudah semestinya sehat jasmani dan rohani, memiliki kompetensi dan prestasi yang teruji dan dapat diandalkan menghadapi tantangan badai dan gelombang.

Selain itu, juga pantas diunggulkan. Para nahkoda yang unggul akan mampu menjalankan tugas dengan baik dan benar aman, selamat bahkan bisa juga cepat untuk sampai tujuan.
Pemimpin birokrasi semestinya adalah orang-orang unggulan, karena dipercaya untuk memegang amanah dan boleh dikatakan less competitor. Unggulanya adalah visinya (kemampuan melihat kedepan dan dengan planning untuk mewujudkan mimpi).
Berprestasi dan teruji menghadapi kejam dan biadabnya mafia birokrasi. Memiliki keberanian, rela berkorban dan ketulusan hati untuk membawa pada kebaikan dan perbaikan.
Tatkala birokrasi punggawa negara mampu menjadi unggulan dapat dipastikan pelayanan prima terwujud. Selain itu juga menjadi bagian dari inisiatif anti korupsi, reformasi birokrasi, dan penuh dengan terobosan kreatif.
Sebaliknya, tatkala pemimpinnya kaum bermasalah dan sarat dengan pendekatan personal maka bahterapun akan sarat masalah dan jauh dari kata profesional. Dapat diduga langgengnya KKN karena dijaga sang naga mafia birokrasi.
Pelayanan-pelayanan publik penuh dengan tipu-tipu, kucing-kucingan dan menjadi peluang adanya pungli.
Yang menyedihkan lagi birokrasi digadaikan untuk kepentingan diri dan kroni. Arah tujuan tidak akan pernah terlihat apa lagi tercapai. “Sang nahkoda bagai orang mabuk”, penuh masalah dan orang menjadi luka batin.[CDL-13072016]
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







