
TRANSINDONESIA.CO – Rukun agawe santoso, crah agawe bubrah. Kerukunan akan membawa kita menuju sejahtera, sedangkan konflik akan membawa kehancuran.
Situasi saling menjelekan, saling menyerang, saling membuli, ingin menang sendiri. Rasa senasib sepenanggungan sebagai anak bangsa seakan dilupakan, seolah tak ada lagi yang mempersatukan.
Jiwa korsa, empati untuk berbela rasa sakan luntur, hanyut entah ke mana. Rasa bangga sebagai anak bangsapun sudah tiada lagi menjadi ungkapan lantang di hari-hari sakral/pada upacara-upacara nasional.
Kebencian rasa ingin saling menghancurkan terdengar dimana-mana, media sosial dengan bangga memamerkan banyak provokasi yang sebenarnya mempermalukan dan mempamerkan ketololan akan bangsanya.
Namun semua tadi seperti sudah tak terbendung lagi, para punggawa, ilmuwan semua mengeluarkan pendapat yang bukan membuat sejuk malahan memperkeruh suasana.
Lagi-lagi warga masyarakat yang bingung, mana yang benar dan dapat dipercaya.
Kebusukan, perilaku, tipu-tipu, curi-mencuri, saling serang, saling menjarah sumber daya seakan sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan dimaklumi sebagai kebiasaan yang semestinya seperti itu terjadi.
Apakah kita menunggu diluluh lantakan bencana besar atau diratakan bagai Sodom dan gomora baru ada benih-benih persatuan?
Tatkala senang memang lupa, bahkan ada kencendrungan gila. Dalam kesusahan dan penderitaan rasa senasib sepenanggungan akan muncul mempererat persaudaraan dan rasa berbela rasapun nampak dimana-mana.
Tak lagi membahas kekuasaan, harta, jabatan, bahkan tak lagi saling menjelekan, karena semua sudah susah, sudah jelek, sudah hancur tak ada lagi yang perlu diirikan.
Puas…puas…puas…seperti Thukul mengatakan saat orang bertepuk tangan setelah mengolok dirinya. Puaskah setelah hancur lebur baru sadar untuk bersatu? Gelo iku tibo mburi/nasi sudah menjadi bubur.(CDL-Jkt131015)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







