
TRANSINDONESIA.CO – Adalah burung berkepala dua yang hidup di hutan yang amat banyak makanannya. Kepala bagian atas selalu makan dari buah-buahan yang enak, segar serta lezat, sedangkan kepala bawah makan makanan sisa-sisa atau remah-remah dari kepala atas.
Pada suatu hari, kepala bawah meminta kepala atas untuk membagi makanan yang enak fresh manis.
Apa jawaban kepala atas?, “Hai kepala bawah, kita ini satu tubuh temboloknya juga satu, makanlah apa yang sudah menjadi bagianmu”.
Akhirnya kepala bawah yang prustasi itu nekad makan jamur beracun, dia pikir toh satu tembolok.
Beberapa saat setelah makan jamur beracun, burung berkepala dua keracunan, menggelepar-gelepar dan akhirnya mati bersama.
Cerita diatas dapat menjadi analogi pemimpin dan anak buahnya. Tatkala sang pemimpin yang semena-mena terhadap anak buahnya tak ada empati, jika anakbuahnya nekad dan melakukan kesalahan fatal maka, pimpinanya juga akan terkena imbasnya dan bisa mati juga.
Anak buah adalah bagian dari tubuh sang pemimpin, institusi yang harus diberdayagunakan.
Tatkala diabaikan, apalagi ditekan-tekan dan diperlakukan tidak adil maka, bisa saja mereka nekad ber demo atau memberontak untuk tidak mengerjakan apa yang telah digariskan.
Kenekatan anak buah menjadi petaka institusi.
Pemimpin memang harus sayang kepada anak buah, memahami yang dipimpinya, menyadaria tidak bisa bekerja sendiri.
Keberhasilanya adalah hasil kerja keras banyak orang, keringat bahkan darah dari banyak oranglah yang membuat ia tenar dan harum namanya.
Tak sedikit pemimpin lupa dan justru rela mengorbankan anak buahnya. Tak banyak juga yang mampu mengucap kata terima kasih atas jasa dan loyalitasnya.
Sukses bukan untuk sendiri, sukses melalui kebersamaan. Pemimpin itu role model yang diidolakan, diharapkan dan bukan role coaster yang memusingkan. (CDL-050515)
Penulis: Chryshnanda Dwilaksana







