
TRANSINDONESIA.CO – Presiden terpilih Joko Widodo mencermati dengan serius proses pergantian Kepala Bagian Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri yang akan berakhir September 2014 ini.
“Tujuannya agar Kabaintelkam dipegang oleh perwira tinggi (Pati) yang tepat, agar proses pelantikan Jokowi sebagai Presiden pada 20 Oktober berjalan aman, lancar, dan tidak ada gangguan yang serius,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangan persnya di Jakarta, Minggu (28/9/2014).
Dikatakan Neta, Kabaintelkam Polri Komjen Pol Suparni Parto yang lahir 7 September 1956 sudah memasuki masa pensiun dan akan meninggalkan jabatannya pada akhir September ini.
“Artinya, pada 1 Oktober 2014 sudah harus dilantik Kabaintelkam baru menggantikan Suparni,” ucap Neta.
Dari pantauan IPW aku Neta, saat ini beredar isu dikalangan elit Polri bahwa posisi Kabaintelkam akan dipegang oleh Akpol 81 atau satu angkatan dengan Kapolri Jenderal Pol Sutarman.
Tetapi, kalangan perwira muda di Polri menginginkan posisi Kabaintelkam dipegang oleh perwira muda, mengingat kinerja Intelkam Polri ke depan perlu mengimbangi kinerja pemerintahan baru Jokowi-JK.
“Saat ini ada sejumlah nama yang muncul sebagai calon kuat untuk menjabat Kabaintelkam, diantaranya Irjen Pol Syafruddin (Kadiv Propam), Irjen Pol Noer Ali (Kapolda Jawa Tengah), Irjen Pol Djoko Mukti Haryono (Wakaba Intelkam), dan beberapa nama pati dari Badan Intelijen Negara (BIN),” terangnya.
Intelijen lanjut Neta, merupakan institusi yang sangat strategis, karenanya perlu dicermati dan ditata kinerjanya oleh Jokowi.
“Selama ini kinerja intelijen selalu kedodoran dan dikeluhkan banyak pihak. Padahal, ancaman keamanan kedepan, terutama diera pemerintahan Jokowi-JK masih tetap tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri,” ujar Neta.
Dihadapan mata saat ini banyaknya ancaman seperti isu terorisme, narkoba, peredaran senjata api ilegal maupun konflik politik perlu dicermati oleh Jokowi dengan pendekatan intelijen agar tidak mencuat menjadi gangguan kamtibmas.
“Bagaimanapun kinerja intelijen, terutama intelijen Polri harus benar-benar prima menjelang pelantikan Jokowi seebagai presiden. Untuk itu, IPW berharap Jokowi ikut mencermati proses “pemilihan” Kabaintelkam yg baru agar Polri tidak salah pilih atau asal pilih,” tuturnya.(yan)







