Seorang wanita Palestina menangis di dalam rumahnya yang hancur terkena serangan udara Israel, di Kota Gaza, 17 Juli 2014.(rts)
TRANSINDONESIA.CO – Militer Israel kembali menyerang tempat perlindungan warga Palestina di sebuah sekolah yang didirikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Rafah. Serangan tersebut setidaknya menewaskan 10 orang.
Seperti yang diberitakan BBC, Minggu (3/8/2014), petugas medis setempat mengatakan bahwa serangan yang dilakukan milter Israel mengenai fasilitas di Rafah yang menjadi tempat berlindung ribuan orang Palestina. Belum ada keterangan dari pihak Israel terkait tindakan yang dilakukan militernya, namun mereka mengkonfirmasi bahwa telah melakukan serangan baru di Gaza.
Pejabat kesehatan di Gaza mengungkapkan ada sekitar 30 orang tewas yang terjadi di hari Minggu ini dampak dari serangan dadakan Israel. Sementara, para militan terus membalas serangannya dengan meluncurkan roket ke Israel.
Semenjak konfilk yang terjadi di kedua belah pihak yang dimulai tiga minggu lalu, Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan bahwa ada sekitar 1.740 warga sipil Palestina meninggal, sedangkan 9.080 orang mengalami luka-luka.
Sedangkan dari militer Israel menyatakan ada seorang perwiranya bernama Hadar Goldin hilang sejak Jumat kemarin di Rafah dan dikonfirmasi telah tewas. Dengan tewasnya perwira tersebut, militer Israel mengatakan pihaknya telah kehilangan 66 orang semenjak pertempuran berlangsung.
Israel sendiri mengaku telah menarik sejumlah pasukannya di daerah Gaza ke daerah yang dianggap aman. Dalam laporannya, Israel telah menyelesaikan tujuan utamanya yakni menghacurkan terowongan yang dianggap sebagai celah yang digunakan para militan Palestina untuk menyusupi ke tanah Israel.
Isreal memperingati para militan Palestina akan melakukan serangan-serangannya kembali. “Kami akan melakukan apapun yang harus dilakukan untuk melindungi rakyatnya (warga Isreal),” ujar PM Benjamin Netanyahu.
Di hari yang sama, Delegasi Hamas yang menguasai Gaza dan Jihad Islam tiba di Kairo, Mesir. Disana mereka akan membicarakan dengan para penjabat Mesir dan AS selama memungkinkan untuk gencatan senjatan. Namun, pihak Israel sendiri menyatakan ketidakhadiran dalam pembicaraan tersebut.(sis/fen)





