4 Desa di OKU Tolak Perluasan Tambang PT SB

semen-baturajaPT Semen Baturaja.(ist)

TRANSINDONESIA.CO – Warga empat desa di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan menolak keras rencana perluasan tambang batu kapur oleh PT Semen Baturaja di Bukit Plawi Baturaja, karena berdampak negatif bagi kesehatan warga setempat.

Pantauan di lapangan, Senin warga empat desa terdiri atas Desa Laya, Tanjung Agung, Saung Naga dan Pusar menolak keras rencana perluasan tambang oleh PT Semen Baturaja (PTSB) dengan memasang spanduk di setiap ruas jalan di Bukit Plawi desa setempat.

“Kami sengaja memasang spanduk karena tidak setuju atas rencana PT SB untuk menggarap lahan kami untuk dijadikan kawasan pertambangan,” kata H Rozali (57) tokoh masyarakat Desa Pusar di Baturaja, Senin.

Dikatakannya, sebelumnya warga setempat melakukan aksi demo ke pihak perusahaan menolak rencana perluasan kawasan pertambangan pabrik PT Semen Baturaja.

Penolakan tersebut kata dia, karena ribuan hektare lahan di wilayah yang akan dijadikan tambang batu kapur sebagai bahan baku pembuatan semen akan digarap sangat berdampak negatif bagi warga di sekitar pemukiman.

Selain kualitas udara menjadi buruk, lahan dan tanah akan hancur termasuk flora dan fauna serta kesehatan masyarakat terancam.

“Perluasan kawasan tambang tersebut banyak mudoratnya dari pada manfaat,” ungkapnya.

Ia menegaskan, seluruh warga pemilik tanah termasuk yang bermukim di wilayah itu tidak akan menjual lahan mereka untuk dijadikan kawasan tambang, meskipun pihak perusahaan membayar ganti rugi dengan harga tinggi.

“Tidak ada gunanya ada uang kalau tanah kelahiran kami hilang dan hancur, karena ledakan di pertambangan batu kapur akan meretakkan beton bangunan rumah,” ungkapnya.

Hal senada diucapkan Safudin (50) warga Desa Laya bahwa menolak keras perluasan lahan pertambangan di Bukit Plawi.

“Karena debu yang dikeluarkan dari produksi semen menimbulkan penyakit sesak nafas dan getaran ledakan dinamit sekarang saja meskipun jaraknya jauh terasa sampai di sini hingga banyak rumah beton warga retak,” ujarnya.(ant/dri)

Share