Masdarwis Harmoni Antara Pemerintah, Enterpreneurship, Teknokogi dan Masyarakat

TRANSINDONESIA.CO – Aku terlalu tua untuk berbisnis? Atau ungkapan terlambat memulai berbisnis? Kita semua kaum kebanyakkan terlalu lama cuek dengan segala sesuatu, mungkin juga terlena sehingga lemah atau malah sama sekali tidak peka terhadap peluang-peluang bisnis yang ada.

Atau belum bernyali memulai, masih ketakutan ini dan itu atau malah sudah dipatahkan asanya oleh dirinya sendiri. Tidak ada lagi self confidencenya.

Bisnis dapat dimulai dari kemauan ketertarikan atau malah dari semangat tinggi yang akan diimbangi dengan potensi dan kompetensi. Tahu akan apa yang akan kita jadikan peluang, yang tentu memiki daya saing. Tatkala ditabur ia akan tumbuh berkembang bahkan bisa pesat melampau prediksi normal.

Masalah memulai bisnis akan menghadapi birokrasi menghadapi kompetitor bahkan menghadapi premanisme yang siap mematikan kapan saja. Bisnis juga adu kekuatan dan paham relasi sebagai mitra sekaligus jaring.  Bisnis wajib memikirkan bagaimana membangun trust dan mampu empowering.

Tatkala sadar akan trust, maka power sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda bisnis sebagai keunggulan dan kebanggaan. Gerakan roda bisnis akan juga bergantung dari marketing yang wajib dilakukan karena untuk meyakinkan para pihak terutama triple helix plus (pemerintah, sektor bisnis, pemanfaatan IT, dan masyarakat) untuk mendapatkan pasar membuka jejaring dalam membangun trust dan relasi. Marketing bukan semata-mata pada selling tetapi juga membangun jembatan atau kaki-kaki jejarin termasuk tatkala mengatasi masalah dari hulu sampai hilir.

Kemasan yang tak kalah pentingnya untuk membuat mitra konsumen bahkan kompetitor kita berkata ‘wow’.

Peluang bagi bangsa Indonesia yang begitu besar mungkin pada alam religi tradisi seni dan teknologi melalui darwis (sadar wisata). Alam religi tradisi seni hingga teknologi merupakan karakter yang dapat dibangun untuk ketahanan Nasional juga dalam bisnis.

Yang harus dipikirkan untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat dan upredictable. Darwis melalui rekayasa sosial terhadap alam religi tradisi seni dengan memanfaatkan teknologi akan tetap berdaya tahan dan berdaya saing tatkala dikelola secara profesional, kreatif, dan inovatif.

Dengan demikian, selalu terbarukan dalam wujud kecerdasan-kecerdasan untuk memprediksi, mengantisipasi, dan terobosan-terobosan baru untuk solusi prima. Infrstruktur dan sumber daya manusia berbasis standar prima yang dalam pelayanannya cepat, tepat, transparan, akuntabel informative, dan mudah diakses.

Hoki? Hhhh… ini yang sering orang bisnis kejar bahkan kadang irasional juga dilakukan. Bisnis darwis tetap harus memposisikan apa yang berbeda dengan lain dan membangun brand.

Di era digital triple helix (government, business, tecknology) plus society harus mampu menggali dan memberdayakan apa saja dengan cara sederhana hingga komples untuk menjadi ikon atau sebagai karakternya.

Dari ikon itulah akan muncul power yang menjadi sumber energy yang memotivasi, memberdayakan, berdaya saing serta termemginspirasi. Apa yang dilakukan tak lekang ruang dan waktu. Apa saja, di mana saja, kapan saja dan siapa saja bisa.

Bisnis Gendang?

Bisnis darwis seperti gendang dan pemainnya. Ada alat musik gendangnya, sisi kanan kiri sebagai input outputnya dan tengahnya sebagai prosesnya.

Sang penabuh ini kekuatan sumberdayanya yang berkompetensi, maka tabuhan gendang akan menjadi harmoni baik untuk main rampak gendang, main dengan alat musik lainnya atau mengiringi penari bahkan penonton bisa ikut hanyut dalam irama dan tabuhannya.***

[Chrysnanda Dwilaksana]

Share