Ilustrasi
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Kepastian awal Ramadhan 1447 Hijriah mulai menemui titik terang. Melalui mekanisme Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah secara resmi menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini menunjukkan keselarasan faktual yang menarik dengan kalender Ummul Qura yang digunakan di Arab Saudi, meskipun keduanya berangkat dari metodologi yang berbeda.
Bagi sebagian masyarakat, rujukan Muhammadiyah terhadap wilayah yang jauh seperti Alaska sering kali memicu pertanyaan mengenai relevansinya dengan ibadah di Indonesia.
Namun, penggunaan wilayah Amerika Utara tersebut merupakan bentuk konsistensi terhadap hasil Kongres Internasional Penyatuan Kalender 2016 di Istanbul. Muhammadiyah memegang teguh kriteria visibilitas dengan tinggi bulan minimal 5 derajat dan elongasi 8 derajat.
Secara matematis, pada petang hari tanggal 17 Februari, kriteria ketat ini terpenuhi di wilayah Alaska, yang menjadi syarat sah masuknya bulan baru dalam skala global.
Keselarasan ini menjadi semakin kuat jika kita menarik garis ke titik yang lebih dekat secara emosional dengan umat Islam, yakni Kakbah.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menjelaskan pada Selasa (17/2/2026) bahwa secara de facto pelaksanaan puasa kemungkinan besar akan berbarengan dengan Ummul Qura di Arab Saudi.
Hal ini terjadi karena pada petang hari tanggal 17 Februari di Mekah, posisi bulan sudah berada di atas ufuk atau bernilai positif.
Kalender Ummul Qura sendiri memiliki karakteristik unik dengan prinsip bahwa asal bulan terbenam setelah matahari, maka bulan baru sudah dimulai tanpa mensyaratkan ketinggian minimum tertentu.
Dengan terpenuhinya syarat tersebut di Mekah, penduduk di Tanah Suci akan memulai salat Tarawih di malam yang sama dengan warga Muhammadiyah di Indonesia.
Kesimpulan yang sama ini membuktikan bahwa perbedaan istilah atau rujukan geografis hanyalah persoalan metodologi untuk mencapai akurasi, bukan untuk menjauhkan diri dari realitas lokal.
Pada akhirnya, tanggal 18 Februari 2026 menjadi titik temu yang istimewa. Meskipun Muhammadiyah merujuk pada standar global hasil Munas Tarjih di Pekajangan dan Arab Saudi menggunakan kriteria lokalnya, keduanya bermuara pada hari yang sama.
Momen ini menjadi pesan persatuan bagi umat Islam untuk mengawali perjalanan spiritual di bulan suci secara serempak. [sfn]





