Wilayah terdampak tanah longsor di Kecamatan Karangpucung, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Ahad (15/2/2026). Transindonesia.co / BPBD Cilacap
TRANSINDONESIA.CO | CILACAP – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan serangkaian bencana alam mulai dari tanah longsor, banjir, hingga angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak Ahad (15/2/2026) hingga Senin (16/2/2026) pagi. Kejadian yang dipicu oleh cuaca ekstrem ini berdampak pada ratusan rumah warga di Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Lampung.
“Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan laporan yang dihimpun sejak Ahad (15/2/2026) hingga Senin (16/2/2026) pukul 07.00 WIB,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, hujan deras pada Sabtu (14/2) memicu tanah longsor di Desa Cidadap dan Desa Tayem. Akibatnya, 15 kepala keluarga terdampak dan material longsor menutup aliran Sungai Cirajayu sepanjang 100 meter. BPBD setempat bersama warga kini tengah bergotong royong membangun turap darurat dan memperbaiki rumah yang terancam.
“Petugas bersama warga setempat bergotong royong memperbaiki rumah yang terdampak dan membuat turap yang terbuat dari tanah sebagai langkah penanganan darurat di lokasi,” kata Abdul Muhari.
Sementara itu, banjir besar merendam Kabupaten Sumbawa, NTB, khususnya di Desa Empang Bawa dan Desa Bunga Eja. Sebanyak 270 rumah warga terendam air.
Tim gabungan telah dikerahkan untuk melakukan normalisasi sedimen sungai serta memperbaiki Cekdam Lagenti guna mencegah banjir susulan di wilayah tersebut.
“Warga bersama petugas bergotong royong melakukan pembersihan sisa banjir, membangun penahan tebing sungai dan bronjong, serta melakukan normalisasi sedimen di DAS pada dua desa terdampak,” lanjutnya.
Tak hanya longsor dan banjir, cuaca ekstrem juga menyebabkan angin kencang di Kabupaten Lampung Selatan. Sebanyak 44 rumah dan satu fasilitas ibadah di Desa Haduyang, Kecamatan Natar, mengalami kerusakan.
BPBD Lampung Selatan telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk pendataan kerusakan lebih lanjut.
“Peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang disertai angin kencang. BPBD Kabupaten Lampung Selatan segera melakukan kaji cepat dan koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa di lokasi terdampak,” jelas Abdul Muhari.
Sebagai langkah antisipasi, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi basah yang masih mengintai.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan, seperti bantaran sungai dan lereng perbukitan, diminta untuk memantau informasi cuaca secara rutin.
“Masyarakat diimbau untuk melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama, serta rutin memantau ketinggian muka air dan memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi,” pungkasnya. [nag]





