Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana bersama sang istri saat membesuk Ibu Meryati Hoegeng di salah satu rumah sakit di Jakarta, pada 21 Januari 2026. Transindonesia.co / Dok. Chryshnanda Dwilaksana
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia. Ibu Meryati Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari mendiang Kapolri legendaris Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, mengembuskan napas terakhirnya pada hari ini, Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB karena sakit.
Kepergian sosok yang genap berusia satu abad pada 23 Juni 2025 lalu ini meninggalkan duka mendalam bagi banyak pihak, termasuk Komjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.
Tak lama sebelum kabar ini tersiar, tepatnya pada 21 Januari 2026, Chryshnanda sempat membesuk Eyang Meri di rumah sakit.
Baginya, Eyang Meri bukan sekadar saksi sejarah, melainkan sumber inspirasi moral yang nyata bagi generasi Polri saat ini.
Teladan Kesederhanaan dan Integritas
Bagi Chryshnanda, Eyang Meri adalah pilar kekuatan di balik sosok Jenderal Hoegeng yang fenomenal. Ia sangat mengagumi bagaimana Eyang Meri dengan penuh keikhlasan mendampingi sang suami menjalankan hidup yang sangat bersahaja.
Dunia mengenal Hoegeng sebagai Kapolri jujur yang lebih memilih mengayuh sepeda untuk pergi bertugas daripada bergelimang fasilitas mewah.
Di balik keteguhan prinsip itu, ada Eyang Meri yang senantiasa menjaga kehormatan keluarga dan memastikan sang suami tetap menjadi pelayan rakyat yang bersih dan dicintai. Kekaguman Chryshnanda berakar pada kemampuan Eyang Meri menjaga “nyala api” kejujuran di tengah godaan jabatan yang besar.
Jiwa Seni dan Semangat Hidup
Selain keteguhan prinsipnya, Eyang Meri dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi.
Di tengah kesederhanaannya, ia aktif menghidupkan musik melalui grup band Hawaian Senior.
Semangat hidup yang luar biasa ini selalu menjadi hal yang dipuji oleh Chryshnanda sebagai bentuk keindahan budi dan energi positif yang tak luntur dimakan usia.
Informasi Rumah Duka:
Pesona Khayangan Estate DG-DH 1, RT 003/028, Mekarjaya, Depok.
Selamat jalan, Eyang Meri. Kini engkau telah bersatu kembali dengan sang Jenderal bersepeda di tempat terbaik. Terima kasih atas teladan kesetiaan dan kesederhanaan yang telah diwariskan bagi bangsa ini. [sfn]
