Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Lampung Timur, Lampung, Senin (2/2/2026). Transindonesia.co /BPBD Kabupaten Lampung Timur
TRANSINDONESIA.CO | JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan rentetan bencana hidrometeorologi mematikan melanda berbagai wilayah di Indonesia sejak awal Februari 2026. Data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) per Selasa (3/2/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan banjir besar merendam belasan ribu rumah di Jawa Tengah, sementara banjir bandang di Jawa Timur mengakibatkan satu orang hilang terseret arus.
“Pusdalops BNPB mencatat sejumlah kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia sejak Senin (2/2) hingga Selasa (3/2) pagi ini yang memerlukan penanganan cepat,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Dampak terparah dilaporkan terjadi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Sebanyak 11.582 unit rumah di lima kecamatan, yakni Siwalan, Buaran, Tirto, Wonokerto, dan Wiradesa, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 80 sentimeter. Hingga saat ini, koordinasi lintas dinas masih terus dilakukan untuk memitigasi dampak yang lebih meluas di wilayah tersebut.
“Berdasarkan pantauan visual di lapangan, banjir di Pekalongan masih menggenang dengan ketinggian air berkisar antara 10 hingga 80 sentimeter,” ungkap Abdul Muhari mengenai situasi terkini di Jawa Tengah.
Sementara itu, duka menyelimuti Kabupaten Jember, Jawa Timur, setelah banjir bandang menerjang Kecamatan Panti dan Rambipuji pada Senin (2/2) siang.
Tim SAR gabungan kini tengah berfokus melakukan operasi pencarian terhadap satu warga yang dilaporkan hanyut. Selain banjir bandang, Jawa Timur juga dihantam angin kencang di Kabupaten Sampang yang merusak sedikitnya 28 unit rumah warga.
“BPBD bersama tim gabungan segera melakukan operasi pencarian terhadap warga yang hanyut serta melakukan penanganan darurat di lokasi kejadian banjir bandang Jember,” tambahnya.
Kondisi serupa terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Lampung. Di Lombok Timur, 145 rumah di Kecamatan Jerowaru terdampak banjir, memaksa Gubernur NTB menetapkan status tanggap darurat hingga 18 April 2026. Sedangkan di Lampung Timur, luapan air merendam puluhan rumah dan belasan lahan sawah di Desa Mulyoasri akibat hujan deras yang tak kunjung reda.
“Dalam rangka percepatan penanganan, Gubernur Nusa Tenggara Barat telah menetapkan status tanggap darurat terhitung sejak 19 Januari hingga 18 April 2026 mendatang,” jelasnya.
Menanggapi eskalasi bencana ini, BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk memperketat kesiapsiagaan, terutama yang bermukim di daerah aliran sungai. Evakuasi mandiri disarankan segera dilakukan jika hujan dengan intensitas tinggi terjadi dalam durasi yang lama guna menghindari jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk rutin memantau ketinggian muka air dan memperbarui informasi cuaca dari lembaga resmi guna melakukan evakuasi mandiri yang aman,” pungkas Abdul Muhari. [man]
