TRANSINDONESIA.CO | MALANG – Bulan Sya‘ban sering dipahami sebagai bulan persiapan menuju Ramadhan. Ia hadir dengan suasana yang relatif tenang, tanpa gegap gempita ritual publik.
Namun justru dalam ketenangan itulah Sya‘ban menyimpan pesan moral yang kuat: membenahi kesalehan individu agar bermuara pada kesalehan sosial. Pesan ini terasa semakin relevan ketika negeri ini diuji oleh berbagai bencana alam yang menimpa sejumlah provinsi secara bersamaan.
Dalam beberapa waktu terakhir, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin ekstrem melanda berbagai wilayah.
Di satu provinsi, banjir merendam permukiman dan memutus akses ekonomi warga. Di provinsi lain, longsor menelan rumah-rumah penduduk di kawasan perbukitan.
Sementara di provinsi ketiga, cuaca ekstrem memukul kelompok rentan—petani, nelayan, dan pekerja informal—yang penghasilannya sangat bergantung pada alam. Bencana-bencana ini bukan hanya peristiwa alam, tetapi juga ujian etika dan spiritualitas kolektif.
Sya‘ban dan Kesalehan Individu: Menata Kesadaran Batin
Dalam hadis, Rasulullah ﷺ menyebut Sya‘ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia, padahal di dalamnya amal diangkat kepada Allah.
Nabi memperbanyak puasa di bulan ini, bukan sekadar untuk menambah kuantitas ibadah, tetapi untuk memperdalam kualitas kesadaran diri. Sya‘ban adalah bulan muhasabah—menata hati, menjernihkan niat, dan melatih empati.
Kesalehan individu yang dilatih di Sya‘ban bukan kesalehan yang menjauh dari realitas sosial. Puasa sunnah, doa, dan istighfar sejatinya mengasah kepekaan batin.
Ketika seseorang terbiasa menahan lapar dan dahaga, ia seharusnya lebih mudah memahami penderitaan orang lain yang kelaparan bukan karena ibadah, tetapi karena kehilangan akibat bencana.
Di sinilah letak ujian kesalehan individu: apakah ibadah membuat hati semakin lembut atau justru semakin acuh. Sya‘ban mengingatkan bahwa ibadah yang benar akan melahirkan kepekaan, bukan keterasingan sosial.
Bencana dan Kesalehan Sosial: Iman yang Diuji Realitas
Bencana yang melanda tiga provinsi tersebut memperlihatkan wajah lain dari keberagamaan kita. Di satu sisi, aktivitas keagamaan tetap berjalan: masjid ramai, majelis taklim aktif, dan persiapan Ramadhan menggeliat. Namun di sisi lain, banyak korban bencana yang masih menunggu uluran tangan, baik dari negara maupun masyarakat.
Kesalehan sosial menuntut agar iman tidak berhenti di sajadah. Dalam konteks bencana, kesalehan sosial hadir dalam bentuk solidaritas, kepedulian, dan keberpihakan pada yang paling terdampak.
Memberi bantuan, menggalang donasi, menjadi relawan, atau sekadar menyebarkan informasi yang benar adalah bagian dari ibadah sosial.
Sya‘ban mengajarkan bahwa pengampunan dan keberkahan ilahi tidak sejalan dengan kebencian, egoisme, dan ketidakpedulian. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa ampunan Allah terhalang bagi mereka yang masih menyimpan permusuhan.
Dalam konteks sosial hari ini, sikap acuh terhadap penderitaan sesama adalah bentuk lain dari “keterputusan relasi” yang menggerus makna iman.
Dari Ritual Menuju Tanggung Jawab Ekologis
Bencana alam juga membuka refleksi lebih dalam: hubungan manusia dengan alam. Banyak bencana bukan murni takdir alam, tetapi berkelindan dengan perilaku manusia—deforestasi, tata ruang yang abai, eksploitasi berlebihan, dan lemahnya etika lingkungan. Kesalehan sosial dalam Islam mencakup tanggung jawab ekologis.
Sya‘ban, sebagai bulan pembenahan diri, seharusnya melahirkan kesadaran baru tentang amanah manusia sebagai khalifah di bumi. Ibadah tidak cukup dimaknai sebagai hubungan vertikal, tetapi juga komitmen moral untuk menjaga keseimbangan alam dan melindungi kehidupan.
Ketika banjir merendam rumah warga di satu provinsi, longsor menelan lahan di provinsi lain, dan cuaca ekstrem memiskinkan komunitas di provinsi ketiga, kita diingatkan bahwa krisis ekologis adalah krisis spiritual. Kesalehan yang abai terhadap lingkungan adalah kesalehan yang pincang.
Sya‘ban sebagai Jembatan Transformasi Sosial
Sya‘ban adalah jembatan: dari kesalehan individu menuju kesalehan sosial, dari ritual menuju etika, dari doa menuju aksi. Ia menyiapkan manusia beriman agar Ramadhan tidak hanya menjadi bulan peningkatan ibadah personal, tetapi juga momentum kebangkitan solidaritas sosial.
Di tengah bencana, doa dan puasa harus berjalan seiring dengan empati dan aksi nyata. Iman diuji bukan hanya di masjid, tetapi di posko pengungsian; bukan hanya dalam wirid, tetapi dalam keberanian berbagi dan merawat sesama.
Sya’ban: Bulan menata Kemanusiaan
Sya‘ban mengajarkan bahwa kesalehan sejati bersifat utuh. Ia berakar pada pembenahan diri dan berbuah pada kepedulian sosial.
Bencana di tiga provinsi hari ini adalah panggilan nurani: agar ibadah tidak berhenti pada simbol, tetapi menjelma menjadi kekuatan kemanusiaan.
Jika Sya‘ban kita jalani dengan kesadaran ini, maka Ramadhan akan datang bukan sekadar sebagai bulan ritual, tetapi sebagai bulan lahirnya masyarakat beriman yang lebih peduli, adil, dan bertanggung jawab—kepada sesama manusia dan kepada alam semesta.
Penulis: Triyo Supriyatno (Wakil Rektor III UIN Maliki Malang).
