TRANSINDONESIA.CO | Oleh: Prof. Achmad Kholiq
Pendahuluan
Peristiwa Isra Mi‘raj dikenal sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw yang luar biasa, menembus dimensi langit untuk bertemu dengan Tuhan. Secara teologis, peristiwa ini sering dipahami sebagai legitimasi atas kewajiban ritual, terutama shalat, yang menjadi tiang agama. Namun, jika pembacaan peristiwa ini terlalu terfokus pada aspek ritualistik, ada risiko pesan etis yang menjadi inti pengalaman spiritual Nabi justru tereduksi. Padahal, hikmah Isra Mi‘raj tidak hanya berkaitan dengan kedekatan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga dengan dimensi horizontal: tanggung jawab terhadap sesama, keadilan sosial, dan penguatan karakter moral. Dengan kata lain, pengalaman spiritual tertinggi selalu bermuara pada praktik etika yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi ini menjadi relevan ketika kita menengok kisah nyata di ruang domestik. Misalnya, pengalaman seorang jurnalis dan fotografer senior yang memilih merawat istrinya yang sakit kronis selama kurang lebih tujuh tahun, meskipun harus mengorbankan karier, peluang profesional, dan ruang sosial publik. Kesetiaan dan pengorbanan yang dijalani dalam kesunyian ini menunjukkan bahwa keshalehan tidak selalu hadir dalam bentuk simbolik atau ritual yang terlihat oleh publik. Ia muncul dalam ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab moral yang dijalani secara konsisten—nilai-nilai yang sejalan dengan pesan etika Isra Mi‘raj.
Kisah semacam ini mengingatkan kita bahwa spiritualitas sejati tidak hanya diukur dari kepatuhan pada ritual, tetapi dari bagaimana nilai-nilai ritual tersebut menginternalisasi karakter, membimbing perilaku, dan membuahkan tindakan sosial yang nyata. Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa pengalaman religius yang mendalam memerlukan integrasi antara ritual dan tanggung jawab sosial. Naik ke langit untuk memperkuat iman harus selalu diikuti oleh “turun” ke bumi untuk menegakkan etika, membela keadilan, dan hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Dalam perspektif ini, keshalehan sosial bukan sekadar konsekuensi tambahan dari ibadah, tetapi merupakan indikator otentik dari kualitas keberagamaan seseorang.
Dengan demikian, pendahuluan ini menekankan bahwa pembacaan Isra Mi‘raj tidak boleh terjebak dalam formalitas ritual semata. Pesan etis dan sosial dari peristiwa ini perlu dijadikan pijakan untuk memahami keshalehan yang utuh—yang tidak hanya mengukuhkan hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menata relasi manusia dengan sesama, membangun solidaritas, dan memperkuat integritas moral di tengah dinamika kehidupan kontemporer.
Keshalehan Simbolik dan Risiko Formalisme
Secara teologis, Isra Mi‘raj menegaskan dimensi transendental agama: hubungan vertikal manusia dengan Tuhan. Namun secara sosiologis dan etis, peristiwa ini justru mengajarkan bahwa pengalaman spiritual tertinggi tidak memutus relasi sosial, melainkan harus kembali ke realitas masyarakat. Nabi tidak menetap di langit, tetapi kembali ke bumi untuk melanjutkan misi sosial dan peradaban. Ini menunjukkan bahwa puncak spiritualitas dalam Islam tidak bersifat eskapis, tetapi transformatif.
Dalam kajian psikologi agama, pengalaman religius yang autentik selalu ditandai oleh perubahan perilaku sosial, seperti meningkatnya empati, pengendalian diri, dan kepedulian terhadap orang lain. Ritual shalat yang diwajibkan dalam peristiwa Isra Mi‘raj, misalnya, secara psikologis melatih disiplin waktu, kesadaran diri, dan refleksi moral. Jika fungsi-fungsi ini bekerja optimal, maka dampaknya semestinya terlihat dalam sikap sosial yang lebih sabar, jujur, dan bertanggung jawab.
Dari perspektif ilmu sosial, agama berfungsi sebagai mekanisme pembentuk solidaritas dan kontrol etika publik. Ritual kolektif memperkuat ikatan sosial, sementara ajaran moralnya menata relasi agar tidak saling merugikan. Dalam konteks ini, Isra Mi‘raj dapat dipahami sebagai simbol integrasi antara dimensi spiritual dan sosial: naik untuk memperkuat iman, turun untuk memperbaiki kehidupan manusia.
Karena itu, hikmah utama Isra Mi‘raj bukan hanya penetapan kewajiban ritual, tetapi juga penguatan mandat etis: bahwa kedekatan dengan Tuhan harus diwujudkan dalam keberpihakan pada kemanusiaan. Ibadah yang lahir dari peristiwa ini seharusnya membentuk kesalehan yang berdampak, bukan sekadar kesalehan yang tampak. Dengan demikian, Isra Mi‘raj menjadi landasan teologis bagi konsep keshalehan sosial sebagai inti dari keberagamaan yang matang dan bertanggung jawab.
Keshalehan Sosial Inti Etika Keagamaan
Peristiwa Isra Mi‘raj mempertegas bahwa puncak pengalaman spiritual tidak berakhir pada keterpisahan dari realitas sosial, tetapi justru berlanjut pada penguatan tanggung jawab kemanusiaan. Setelah mengalami kedekatan tertinggi dengan Tuhan, Nabi Muhammad saw tidak tinggal dalam ruang transendental, melainkan kembali ke tengah masyarakat untuk melanjutkan misi pembinaan akhlak dan keadilan sosial. Ini memberi pesan kuat bahwa spiritualitas sejati tidak bersifat eskapis, tetapi harus berbuah pada perbaikan relasi sosial.
Kewajiban shalat yang ditetapkan dalam Isra Mi‘raj pun mengandung dimensi etika sosial yang mendalam. Shalat bukan hanya latihan kesalehan personal, tetapi juga sarana pembentukan karakter: disiplin, kejujuran, pengendalian diri, dan kesadaran moral. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menuntun perilaku seseorang dalam menghadapi tanggung jawab sosial, termasuk dalam relasi keluarga, pekerjaan, dan kepedulian terhadap yang lemah.
Dengan demikian, Isra Mi‘raj dapat dipahami sebagai simbol integrasi antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Naik untuk meneguhkan iman, turun untuk menegakkan etika. Dalam kerangka ini, keshalehan sosial bukan sekadar konsekuensi tambahan dari ibadah, tetapi merupakan indikator utama keberhasilan pengalaman spiritual itu sendiri. Semakin tinggi kualitas ibadah, semestinya semakin kuat pula komitmen pada tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.
Integrasi Ritual dan Tanggung Jawab Sosial
Peristiwa Isra Mi‘raj menghadirkan pesan penting tentang keterhubungan antara pengalaman spiritual dan tanggung jawab sosial. Nabi Muhammad SAA mengalami puncak kedekatan dengan Tuhan, namun tidak berhenti pada pengalaman transendental tersebut. Ia kembali ke tengah masyarakat untuk melanjutkan misi etis: membangun keadilan, memperkuat solidaritas, dan memuliakan martabat manusia. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dimaksudkan untuk menjauhkan manusia dari realitas sosial, melainkan untuk memperkuat komitmen moral di dalamnya.
Penetapan shalat sebagai inti ibadah dalam Isra Mi‘raj juga mengandung dimensi pembentukan karakter sosial. Shalat melatih disiplin, kejujuran batin, dan kesadaran akan tanggung jawab, yang seharusnya tercermin dalam perilaku sosial sehari-hari. Dengan demikian, ritual bukan sekadar pemenuhan kewajiban formal, tetapi proses internalisasi nilai yang menuntun seseorang untuk lebih sabar, setia, dan peduli dalam relasi sosial yang konkret.
Sebaliknya, pengalaman sosial yang sarat pengorbanan, seperti merawat yang sakit, menepati amanah, dan bertahan dalam kesetiaan, sering kali menjadi ruang pendewasaan spiritual yang paling nyata.
Dalam konteks ini, tanggung jawab sosial tidak hanya merupakan implikasi dari ibadah, tetapi juga sarana pemurnian iman. Nilai-nilai seperti ikhlas, tawakal, dan empati justru menemukan makna terdalamnya ketika diuji dalam situasi hidup yang sulit.
Karena itu, Isra Mi‘raj dapat dibaca sebagai simbol integrasi antara “naik” dalam penguatan spiritual dan “turun” dalam pengabdian sosial. Ritual tanpa implikasi etis berisiko melahirkan keshalehan simbolik, sementara kepedulian sosial tanpa fondasi spiritual berpotensi kehilangan orientasi nilai. Integrasi keduanya merupakan ukuran keberagamaan yang lebih utuh, di mana kesalehan personal dan tanggung jawab sosial saling menguatkan dalam membentuk etika kehidupan yang berkeadaban.
Relevansi Etika Sosial dalam Konteks Kontemporer
Peristiwa Isra Mi‘raj bukan hanya momentum spiritual historis, tetapi juga memberi pelajaran etis yang relevan bagi masyarakat kontemporer. Dalam pengalaman Nabi Muhammad saw, kedekatan dengan Tuhan selalu diiringi dengan tanggung jawab terhadap sesama. Meskipun mencapai puncak spiritual, Nabi kembali ke bumi untuk membimbing masyarakat, menegakkan keadilan, dan memperkuat solidaritas. Pesan ini menjadi relevan bagi kita yang hidup di era individualisme dan orientasi pada pencapaian personal: spiritualitas sejati tidak boleh berhenti pada ritual semata, tetapi harus membuahkan tindakan sosial yang nyata.
Dalam konteks modern, keluarga, tempat kerja, dan komunitas menjadi medan utama implementasi etika sosial. Nilai-nilai yang dipelajari melalui ritual—seperti disiplin, kejujuran, kesabaran, dan empati—harus diuji dalam relasi sehari-hari yang konkret. Isra Mi‘raj mengingatkan bahwa kualitas keberagamaan seseorang tercermin tidak hanya dari kepatuhan terhadap ibadah, tetapi dari konsistensi moral dalam menghadapi tantangan sosial, mengurus yang lemah, dan menepati amanah di tengah kompleksitas hidup modern.
Dengan demikian, etika sosial yang terinspirasi oleh Isra Mi‘raj menegaskan bahwa agama adalah kekuatan moral yang menata hubungan manusia, membentuk solidaritas, dan menumbuhkan kepedulian—bukan sekadar identitas simbolik atau serangkaian ritual formal. Integrasi antara ritual dan tanggung jawab sosial inilah yang menjadikan keshalehan utuh, relevan, dan membumi dalam konteks masyarakat kontemporer.
Penutup
Isra Mi‘raj mengingatkan bahwa pengalaman spiritual sejati tidak berhenti pada langit, tetapi harus kembali ke bumi dalam bentuk tanggung jawab sosial. Keshalehan yang matang bukan hanya soal kedekatan dengan Tuhan, tetapi juga tentang kesediaan hadir, setia, dan peduli dalam relasi kemanusiaan.
Karena itu, ukuran keshalehan yang lebih utuh terletak pada integrasi antara ritual dan etika sosial. Ketika keduanya saling menguatkan, agama tidak berhenti sebagai simbol, tetapi hadir sebagai kekuatan moral yang membentuk pribadi, keluarga, dan masyarakat yang berkeadaban.
Penulis: Guru Besar UIN Siber Cirebon
