TRANSINDONESIA.CO | Oleh: H. Syahrir, SE, M.IPol.
Peringatan Isra Mi’raj 1447 Hijriah tahun 2026 ini membawa pesan kuat tentang akselerasi. Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan tercepat dan tertinggi dalam sejarah manusia, bukan seremoni keagamaan tahunan.
Bagi kita di Jawa Barat dan Indonesia secara luas, peristiwa perjalanan agung Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha adalah simbol akselerasi dan lompatan kualitatif yang harus kita maknai dalam konteks modernisasi bangsa.
Perlambang bahwa untuk mencapai kejayaan, bangsa Indonesia tidak bisa lagi berjalan santai. Kita harus melakukan lompatan besar melalui penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek), tanpa meninggalkan akar pendidikan kerakyatan.
Pada konteks ini, ada tiga pilar utama yang ingin saya tekankan dalam momentum peringatan Isra Mi’raj 1447 H:
• Iptek sebagai Instrumen Keimanan
Peristiwa Isra Mi’raj adalah peristiwa yang melampaui nalar manusia pada zamannya, namun hari ini kita melihat bagaimana sains dan teknologi mencoba memahami dimensi ruang dan waktu.
Sebagai anggota legislatif, saya mendorong agar umat Islam tidak alergi terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
Justru, penguasaan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), hingga energi terbarukan harus dijadikan alat untuk menebar maslahat. Indonesia tidak akan bisa maju jika kita hanya menjadi penikmat teknologi, kita harus menjadi inovator yang berlandaskan nilai-nilai etika ketuhanan.
• GenZ: Transformasi Sekolah Rakyat
Konsep “Sekolah Rakyat” sebagai aplikasi visi misi Presiden Prabowo Subianto mencerdaskan anak bangsa dari level masyarakat tak mampu harus didefinisikan mencetak generasi berilmu dan berakhlak.
Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik di desa-desa, melainkan sebuah ekosistem pendidikan yang inklusif namun canggih, dengan transformasi “Sekolah Rakyat 4.0” di Jawa Barat.
Pendidikan tidak boleh menjadi barang mewah. Kita butuh sekolah-sekolah yang mampu mengawinkan kurikulum modern dengan karakter lokal yang kuat.
Sebagai anggota dewan, saya terus berkomitmen mengawal kebijakan anggaran agar fasilitas pendidikan di daerah terpencil mendapatkan porsi yang adil, sehingga anak-anak petani dan buruh memiliki kesempatan yang sama untuk menguasai teknologi masa depan, sebagai literasi digital masif.
Sekolah rakyat harus menjadi pusat pembelajaran “coding”, data sains, dan pemanfaatan AI bagi anak-anak petani dan nelayan. Iptek bukan hanya milik masyarakat kota.
Iptek di Sekolah Rakyat bertujuan memutus rantai kemiskinan. Dengan teknologi, akses terhadap ilmu pengetahuan terbaik di dunia kini ada di ujung jari siswa, tak peduli mereka berada di pelosok Jawa Barat.
Kepada anak-anak muda, khususnya Generasi Z di Jawa Barat, tantangan kalian hari ini bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan keterbelakangan informasi dan dekadensi moral.
Isra Mi’raj mengajarkan bahwa kecerdasan intelektual harus berbanding lurus dengan ketundukan spiritual. Menguasai algoritma dan teknologi mutakhir, namun tetap memiliki empati sosial dan santun terhadap orang tua serta guru.
Gen-Z harus menggunakan nalar ilmiah (Iptek) untuk menyaring informasi, sekaligus menggunakan hati nurani (akhlak) untuk menyebarkan kebaikan.
Menciptakan solusi digital yang tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga membawa maslahat bagi sesama manusia.
• Sintesa Iman dan Ilmu
Perjalanan Rasulullah ke Sidratul Muntaha adalah bukti bahwa puncak tertinggi ilmu pengetahuan adalah pengakuan terhadap keagungan Tuhan. Untuk Indonesia yang lebih maju.
Izinkan saya mengutip pernyataan tegas Presiden Prabowo Subianto; “Saya hormat kepada pemulung dan petani daripada orang pintar tapi korupsi”. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saya narasi kan; “Kita tidak butuh sekadar orang pintar yang rakus, kita butuh orang pintar yang takut kepada Tuhan dan cinta kepada rakyatnya.”
Pendidikan yang kita perjuangkan di legislatif saat ini adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Sekolah yang membekali siswanya dengan laptop di tangan kanan dan kitab suci di tangan kiri.
Penutup
Jika Isra Mi’raj adalah sebuah “lompatan” besar, maka Indonesia di tahun 2026 ini sedang berada di titik krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur fisiknya, tapi dari kualitas SDM-nya.
Mari kita jadikan momentum Isra Mi’raj 2026 ini sebagai garis start untuk berlari lebih cepat. Dengan Sekolah Rakyat yang tanggap Iptek dan Generasi Z yang berakhlak mulia, saya optimis Jawa Barat akan menjadi lokomotif utama Indonesia yang disegani dunia.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi ikhtiar kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.**
Penulis adalah: Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi Gerindra.
