Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.Pol (ketiga dari kiri), menghadiri sosialiasi Peluang Job ke Luar Negeri dengan kepala sekolah SMK swasta Kota dan Kabupaten Bekasi, se-Wilayah III Jawa Barat, di Aula Lantai 2 Gedung Cabang Dinas Pendidikan (CADISDIK) Wilayah III Jawa Barat, Jl. Raya Teuku Umar No. 1 Desa Gandasari Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Selasa (13/1/2026). TransIndonesia.co / Ist
TRANSINDONESIA.CO | BEKASI – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat, H. Syahrir, SE, M.Pol, mendorong penguatan keahlian atau skill siswa SMK agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. Langkah strategis ini diambil sebagai solusi konkret untuk menekan angka pengangguran di Jawa Barat yang saat ini masih menduduki posisi ketiga tertinggi di tingkat nasional dengan persentase mencapai 6,77 persen.
“Berdasarkan data terkini, dari total angkatan kerja di Jawa Barat sebanyak 26,29 juta orang, penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 24,51 juta orang. Hal ini menyisakan angka Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 1,78 juta orang. Bahkan, di wilayah Jawa Barat sendiri, Kota Cimahi mencatatkan angka pengangguran tertinggi yang mencapai 8,97 persen,” kata Syahrir memaparkan urgensi penyerapan tenaga kerja ke luar negeri pada sosialiasi Peluang Job ke Luar Negeri oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) berkolaborasi dengan Migran Indonesia Asisten (MIA) yang diselenggarakan Cabang Dinas Pendidikan (CADISDIK) Wilayah III Jawa Barat, dengan kepala sekolah SMK swasta Kota dan Kabupaten Bekasi, di Aula Lantai 2 Gedung CADISDIK Wilayah III Jawa Barat, Jl. Raya Teuku Umar No. 1 Desa Gandasari Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Selasa (13/1/2026).
Syahrir menjelaskan bahwa upaya mendorong lulusan SMK ke pasar global atau go internasional sangat selaras dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembukaan satu juta lapangan kerja di luar negeri setiap tahunnya.
Mengingat jumlah penduduk Jawa Barat yang mencapai 51,1 juta jiwa, potensi ini dinilai sangat strategis untuk diambil demi menyeimbangkan ketersediaan lapangan kerja dengan jumlah angkatan kerja yang terus tumbuh.
“Tingginya Upah Minimum Regional (UMR) di Kota dan Kabupaten Bekasi memicu tren relokasi perusahaan berpindah ke wilayah lain seperti Jawa Tengah,” terang Syahrir.
Syahrir yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Gerakan Literasi Nasional (GLN) “Gareulis” Jawa Barat, menilai bahwa peluang pekerja migran formal dapat menjadi pengganti yang efektif atas hilangnya peluang kerja lokal akibat perpindahan pabrik tersebut.
Anggota DPRD Jabar 4 periode ini mencontohkan bahwa saat ini tersedia peluang melatih 500 orang untuk diberangkatkan ke Turki, sebuah momentum yang harus dimanfaatkan oleh lulusan SMK untuk mengurangi angka pengangguran.
Guna mewujudkan hal tersebut, politisi senior Fraksi Gerindra ini mendorong pihak sekolah untuk aktif berkolaborasi dengan Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) dan Migran Indonesia Asisten (MIA).
Syahrir meminta para kepala sekolah untuk menjemput bola dengan mengundang lembaga terkait guna memberikan motivasi langsung kepada siswa agar mereka terdorong berkarir di mancanegara.
“Dengan kesiapan mental dan keahlian yang mumpuni, para lulusan SMK di Bekasi diharapkan tidak hanya menjadi solusi bagi masalah pengangguran di Jawa Barat, tetapi juga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional melalui kontribusi mereka di kancah global,” ungkap Syahrir.
APJATI dan MIA Bekali Pelatihan
Dalam kegiatan ini hadir Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Jabar, Dr. Rina Parlina, SIP, MM, Sekjen APJATI, Kausar Nefi Tanjung, Direktur Utama MIA, Jackson dan Perwakilan perusahaan Investasi sektor pendidikan dan teknologi dari MIA, Ando, serta 100 kepala sekolah SMK Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Jabar, Dr. Rina Parlina, SIP, MM, menegaskan bahwa anggapan SMK sebagai penyumbang pengangguran terbesar harus dipatahkan melalui inovasi dan skill para anak didik.
“Kita buktikan anak-anak kita punya daya saing unggul. Ini kesempatan membuka cakrawala siswa SMK melalui kolaborasi dengan APJATI dan MIA,” kata Rina.
Sedangkan Sekjen APJATI, Kausar Nefi Tanjung, mengakui konsistensi anggota DPRD Jabar H. Syahrir dalam membuka akses bagi calon pekerja migran, termasuk menjembatani hubungan dengan Cadisdik Jabar.
“Jangan khawatir bekerja ke luar negeri. APJATI menjamin perlindungan pekerja di semua negara. Banyak TKI yang berhasil, kembali ke Indonesia dan mampu membangun perusahaan hingga Balai Latihan Kerja (BLK),” jelas Kausar, yang juga memuji inisiatif Syahrir dalam mengadakan pelatihan kerja gratis.
Perwakilan perusahaan Investasi sektor pendidikan dan teknologi dari MIA, Ando, menyoroti persoalan klasik dunia kerja, seperti banyaknya data pelamar namun sedikit yang siap kerja baik dari mental, sikap, dan penguasaan bahasa, seperti bahas Inggris, Jepang, dan lainnya.
“Kami mempersiapkan infrastruktur agar persoalan ‘ada tapi tiada’ ini selesai. Melalui platform SMK, sekolah memegang kendali mulai dari pendaftaran hingga pemantauan siswa saat bekerja di luar negeri,” ungkap Jackson.
Ando menyatakan ada tiga sektor investasi MIA mengandeng Danantara yakni, sektor pendidikan internasional universitas, sektor platform menjadi solusi ada tapi tiada. Dan Sektor finansial sport untuk berpartisipasi dan investasi
“Ke depan MIA akan bekerjasama dengan perguruan tinggi. Semakin banyak pekerja migran akan memajukan perekonomian nasional,” ungkap Ando.
Direktur Utama MIA, Jackson , mejelaskan MIA akan memberikan bantuan pendanaan untuk kesiapan siswa, termasuk pelatihan bahasa Jepang yang peminatnya melonjak 100 persen berkat dorongan H. Syahrir.
“Kolaborasi ini juga akan mencakup sertifikasi AI dan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi internasional,” kata Jackson. [amh]
